Tampilkan postingan dengan label Fenomena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena. Tampilkan semua postingan

Senin, November 21, 2016

Ditulis oleh Komunitas Intelektual Sumenep menyikapi perkembangan di sumenep dan Madura
Peta Kabupaten Sumenep beserta potensi wisatanya

1. Pengantar
Madura adalah pulau yang terletak di sebelah timur laut Surabaya yang memunyai luas 4500 km2 dengan panjang 180 km dan lebar 40 km. Dibandingkan pulau Jawa pulau ini sangat kecil. Setidaknya ada empat Kabupaten di pulau tersebut di antaranya adalah Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Sumenep merupakan Kabupaten tertimur di pulau tersebut yang memunyai pulau sebanyak 126 dengan 48 pulau berpenghuni. Sebagai kabupaten, Sumenep ternyata memunyai keistimewaan sebagai kota destinasi wisata baik yang di daratan atau pun di kepulauan. Hal ini terbukti bahwa dalam perencanaan saat pembangunan suramadu Sumenep ditarget sebagai kota wisata di Madura[  Muthmainnah, Jembatan Suramadu, LKPSM, 1998.].

Dalam perkembangannya, sumenep telah berhasil memikat hati penguasa baik di tingkat kabupaten, provinsi atau pun pusat. Hal itu ditandai dengan ditemukannya daerah oksigen tertinggi kedua dunia oleh tim LAPAN pada tahun 2012. Maka, dengan segera angin segar itu ditangkap oleh pemerintah dengan memerintahkan BPWS segera membentuk tim pembuat masterplan daerah wisata tersebut dengan tema wisata kesehatan. Lalu, kepercayaan akan daya tarik wisata kembali dikokohkan dengan semakin populernya pulau kecil Gili Labak yang sejak dulu tidak seorang pun memberi perhatian, bahkan, penduduknya yang hanya puluhan kepala keluarga itu tidak bisa menikmati pendidikan secara maksimal. Sejak saat itulah Sumenep terkenal dengan segi tiga wisata yang meliputi Lombang, Gili Iyang dan Gili Labak.

Untuk mengembangkan dan memajukan wisata yang telah berada di depan mata, dibutuhkan dana yang tidak tanggung. Betapa pun, infrastruktur yang kurang memadai harus segera dibenahi baik jalan akses, penginapan pun destinasi wisata tersebut. Maka, sangat wajar jika pada akhirnya Sumenep harus menggandeng investor menanamkan modalnya. Berdasarkan hitung-hitungan tersebut pemerintah daerah terus menggenjot usaha memikat hati investor baik lokal pun internasional. Apa lagi hal ini senada dengan prinsip pemerintah pusat.

Hal ini dimaksudkan selain meningkatkan pemasukan pada kas daerah (PAD) juga perkembangan ekonomi rakyat sebagaimana menjadi cita-cita pemerintah daerah. Namun, masuknya investor yang begitu cepat bukan tanpa resiko. Mereka yang masuk dengan hitung-hitungan untung rugi akan berhitung sedemikian rupa. Dalam konsep investor masalah masyarakat dan lingkungan adalah urusan belakangan. Maka, resiko yang paling dikhawatirkan adalah eksploitas besar-besaran. Selain itu, masuknya orang asing baik itu investor pun wisatawan akan membawa dampak sosial-budaya tersendiri yang, jika tidak diantisipasi sebelumnya, akan sangat merugikan masyarakat pun Madura
pada umumnya.
 
2. Investor dan Tanah
Hal yang sangat menarik untuk didiskusikan di Madura khususnya Sumenep adalah maraknya penjualan tanah kepada investor asing (China dan Jepang). Pada awalnya hanyalah ketidakmengertian. Tiba-tiba saja hadir orang-orang yang tidak dikenal dengan berbagai bentuknya yang ujung-ujungnya membeli sebidang tanah di pegunungan dengan dalih mendirikan rumah dan mosollah. Sepintas peristiwa ini tidak ada kaitannya dengan pembelian tanah yang akhir-akhir ini marak di Sumenep pun destinasi wisata yang direncakan. Namun jika mau sediki berpikir dan merenung ada benang merah yang dapat ditarik.

Setidaknya, sejak tahun 1990-an Madura sudah menjadi incaran sebagai kota metropolitan yang terhubung dengan Surabaya yang dikenal dengan Gerbang Kertosusilo[ Koentowijoyo, Madura Dijual dalam Radikalisme Petani, Bentang: 1994.]. Maka, tidak heran jika ada keyakinan bahwa investor sudah mulai melirik Madura sejak saat itu. Hanya saja, sebagai masyarakat petani yang awam tidak seorang pun menyadarinya. Maka kedatangan mereka dalam bentuk apa pun bisa saja terjadi. Mungkin saja peneliti, akademisi, tamu yang hanya menghabiskan waktu, bahkan seorang nyeleneh yang membangun rumah di atas bukit.

Dari sanalah mereka mendapatkan pandangan menyeluruh tentang terget yang hendak diterkam. Maka segala rencana disusun dengan matang dan berbagai pendekatan juga dipersiapkan. Maka, kita yang baru tersadar akan adanya ancaman sangant kesulitan mengejar mereka yang sudah memersiapkannya dengan matang. Akibatnya, seperti yang bisa dilihat sekarang. Tanah-tanah dengan begitu mudah dilepaskan meski dengan harga yang terkesan begitu ditekan[ Kisaran harga antara 10000/m sampai 25000/m (Radar Madura, 21 Oktober 2016)]. Sampai saat ini perkiraan tanah yang telah terjual adalah 500 ha dari 1000 ha yang ditargetkan[ Data BATAN yang diperoleh dari tim investigasi Majalah Fajar.].

Lalu kenapa harus tanah? Kenapa investor itu tidak langsung menginvestasikan modalnya untuk destinasi wisata yang dicanangkan? Jawabnya sudah jelas. Mereka selalu berhitung untung rugi. Sekali melangkah semua arah dan kemungkinan harus dikuasai. Maka, menguasai tanah adalah cara pertama untuk merebut hegemoni. Dengan menguasai tanah sebagai moda produksi maka sudah bisa dipastikan mereka akan menjadi tuan yang bisa melakukan apa pun demi sebuah keuntungan. Tambak udang yang saat ini sedang marak dibangun diyakini hanya sasaran antara. Bagaimana pun masa subur lahan tambak hanya berkisar 10 tahun, selebihnya sudah tidak produktif lagi. Jika hanya ingin membuat tambak, mereka tidak harus susah-susah membelinya. Menyewanya akan lebih murah dan setelah selesai mereka tinggal pindah dan kembali menyewa.

Atas dasar tesis di atas setidaknya kita patut menaruh curiga terhadap peristiwa ini. Menurut pemerhati lingkungan kemungkinan besar tanah yang telah dimiliki investor asing itu pada akhirnya akan ditransformasikan pada bangunan-bangunan yang mendukung terhadap tersedianya infrastruktur yang aman dan nyaman bagi setiap wistawan yang hendak berkunjung ke tiga tempat wisata yang berdekatan tersebut. Bagunan itu bisa berupa hotel berbintang, cottage, villa dan sejenisnya.
Kecurigaan kedua adalah kenyatan bahwa Madura adalah pulau kecil dan gersang yang di dalam perut buminya terkandung berlimpah kekayaan baik berupa migas, karst pun berlian. Di antara ketiga kekayaan tersebut yang paling menonjol adalah minyak bumi. Setidaknya hingga kini Madura merupakan penyumbang minyak bumi terbesar di Jawa Timur.

Dengan terjualnya tanah kepada pihak investor secara umum merupakan pertanda bahwa cengkeraman kapitalis global mulai menancapkan taringnya di Madura. Masuknya mereka tidak serta-merta tanpa efek domino. Mereka juga telah memersiapkan jebakan-jebakan jitu untuk menarik masyarakat lokal dalam pusaranya yang penuh kelicikan[ Semacam simulakra dalam istilahnya Baudrillard.]. Target paling penting adalah anak muda. Mereka akan dijauhkan dengan lokalitasnya dan ketika mereka sudah terasing maka semuanya sudah berada dalam genggaman dan Madura segera menuju kematiannya.

3. Tanah dan Sebuah PerubahanPada awalnya, bagi manusia Madura tanah adalah kekayaan yang sebenarnya karena dengan tanahlah mereka bisa bertahan dan mengembangkan kualitas hidupnya. Ini bukanlah sekadar peristiwa ekonomi, namun juga meliputi sosial relegius. Tanah tidak hanya membuat seseorang bertahan hidup secara fisik, namun juga spiritual (Bambang, 2003; Wiyata, 2013).

Sebagai sebuah kekayaan, tanah tidak sekadar benda mati yang diolah. Ia adalah sebuah peristiwa yang menyambungkan manusia Madura dengan asalnya. Merawat tanah tidak hanya bermakna ekologis, namun merupakan pengakuan bahwa dia mempunyai nenek moyang yang sampai saat kapan pun akan tetap ada bersama mereka meski di alam berbeda.

Sebagai penganut agama Islam yang taat (Rifaie, 2007; Syamsul Ma’arif, 2015) dan mayoritas NU, manusia Madura meyakini bahwa nenek moyang yang sudah meninggal dunia tidak serta-merta menghilang begitu saja. Mereka masih ada namun di alam yang berbeda. Bagi mereka seorang yang meninggal hanyalah pindah tempat dari dunia fisik ke ruh. Meski tidak bisa leluasa berbuat seperti saat masih berada di dunia, mereka diyakini berada begitu dekat dengan Tuhan. Jadi, satu-satunya kekuatan ruh nenek moyang adalah doa yang sangat mustajab. Untuk mendapatkan restu dan doa baiknya, manusia Madura harus tetap menampakkan pengabdian pada leluhurnya dengan menjalankan wasiat dan merawat tanah peninggalannya. Bagi yang tidak mengindahkan hal tersebut mereka akan ecapo’ tola (kena kualat).

Untuk tetap menjaga keyakinannya dan menambah nilai sakralitas tanah sangkol (warisan) biasanya mereka mengubur jenazah nenek moyangnya di tanahnya sendiri sehingga akan merasa semakin dekat dengan ruh leluhur. Pada akhirnya, tanah yang mereka miliki diyakini sebagai jiwa leluhur yang masih hidup dan selalu mengawasinya. Tidak ada alasan untuk menjual tanah pada orang luar, karena hal itu adalah aib. Menjual tanah sangkol sama dengan menjual rumah (Bambang, 2003). Jika seseorang tidak mempunyai rumah sebagai tempat berlindung dia akan menjadi gelandangan. Tidak ada kebebasan yang dimiliki. Hanya seonggok daging hidup yang terus berpindah dari tempat satu ke tempat lain. Sudah bisa dipastikan tidak ada peradaban yang akan ditinggalkan untuk anak cucunya. Bahkan, kehadirannya tidak akan pernah diperhitungkan oleh siapa pun. Kalau terpaksa, maka tanah yang dimiliki harus dijual pada saudara sendiri.

Seorang yang menjual tanahnya pada orang luar juga diyakini tidak akan hidup dengan tenang. Selain dianggap menjual rumah, menjual tanah juga akan dinggap mengabaikan nenek moyang. Dalam tatakrama masyarakat Madura pengabaian terhadap leluhur disebut cangkolang. Perbuatan ini dianggap tabu karena bisa merusak struktur tatanan yang sudah terbentuk begitu lama dan rapi.
Penjualan tanah besar-besaran yang terjadi di Madura saat ini merupakan suatu peristiwa besar perombakan tatanan kebudayaan masyarakat yang sudah disetting sedemikian rupa oleh sistim kapitalis global. Kepemilikan materi berlimpah yang menjadi tujuan utama dibanding dengan ketersambungan dengan leluhur merupakan awal yang akan merubah wajah manusia Madura ke depan. Mungkin, lima atau sepuluh tahun lagi Madura tidak akan kita temukan kecuali serpihan sejarah yang tercecer di rak buku perpustakaan dan toko loak di pasaran dengan embel-embel terbelakang dan selebihnya hanyalah pulau penuh mesin dan anak cucunya yang terasing di tanah kelahirannya sendiri.

4. Kasus-Kasus yang Berkembang
Setelah ratusan hektar tanah terjual yang meliputi Kecamatan Dasuk, Batang-Batang, Dungkek, Gapura, Bluto dan Talango sedikit demi sedikit kekhawatiran yang sempat muncul terbukti. Setidaknya investor asing yang sudah mulai menguasai kawasan terdampak mulai berwajah arogan. setidaknya lima dari enam kecamatan sudah mulai resah dan sebagian masyarakat bahkan yang dulunya masuk dalam jaringan makelar menyadarinya dan segera berubah haluan.


Menurut kabar, investor yang awalnya berjanji akan memekerjakan tenaga lokal ternyata tidak terbukti. Hal ini terjadi di Kerta Timur Kecamatan Dasuk. Dari 27 oranng pekerja hanya 5 orang yang diambil dari tenaga lokal. Selebihnya adalah pekerja yang datang dari luar baik masih di lingkungan Madura pun luar Madura. Hal ini juga terjadi di tempat yang berbeda meski jumlahnya variatif. Yang lebih menarik, tanah yang pada awalnya adalah lahan untuk bertani dan tidak ada aturan yang beraneka ragam menggelayutinya, saat ia beralih kepemilikan tanah tersebut berubah 180 drajat. Semua sudut tanah dikelilingi pagar beton dengan ketinggian 2 sampai 3 meter. Hanya ada satu jalan akses yang kemudian dijaga oleh blater sebagai penjamin keamanan.

Di satu sisi pagar yang begitu tinggi dan permanen itu mengisyaratkan suatu perlindungan dan keprivatan, namun di sisi yang berbeda ia mengandaikan bahwa masyarakat sekitar adalah makhluk yang perlu diawasi dan diwaspadai. Mereka menganggap masyarakat adalah ancaman yang tidak mendukung malah merintangi. Tidak heran jika kemudian mereka bersikap acuh tak acuh pada masyarakat, bahkan lebih arogan.

Kasus tentang tanah juga berkembang di Lapa Daja Kecamatan Dungkek. Mereka yang pada awalnya masuk dengan menggunakan jasa ulama lokal dan janji manis yang menggiurkan ternyata telah bertindak sewenang-wenang. Peristiwa itu baru disadari ketika terdapat lokasi pemakaman tua yang digusur oleh investor dengan alasan sudah dibeli. Bahkan, polemik yang berkembang tidak hanya berkisar pada investor dan masyarakat, namun juga terjadi ketegangan antar ulama yang pro dan kontra. Pada akhirnya, ketegangan itu berubah, musuh yang dihadapi tidak lagi investor yang sama sekali asing, namun saudara sedesa yang selama ini sangat akur bahkan guyub. Maka, jika ini dibiarkan berlarut-larut, investor-investor asing itu akan menjadi semkain leluasa sementara mereka yang mungkin masih sesaudara di desa akan pecah bela dan hancur berantakan.

Kasus di Andulang yang akhir-akhir ini mencuat dan sedang dilakukan mediasi oleh DPRD komisi2 sekaligus Kapolres Sumenep adalah pengakuan dua orang  perempuan yang merasa terintimedasi karena dibangunnya tambak udang milik CV. Madura Marina Lestari. Kedua perempuan itu mengaku memiliki sawah produktif seluas 1450m yang saat ini berada di tengah areal tambak yang sudah dikelilingi oleh dinding beton. Suasananya sangat berbeda karena saat ini kedua perempuan yang hanya bergantung hidup dari hasil bertani tersebut tidak memiliki akses masuk leluasa ke sawahnya. Mereka harus melalui pintu masuk yang dijaga ketat karena hanya itulah satu-satunya akses yang ada.
Maka, bisa dibayangkan kondisi psikologis dua perempaun tersebut. Selain merasa risih, takut akan intimedasi juga tidak leluasa ketika harus bekerja di tanahnya sendiri. Meskipun dalam kondisi terjepit dan sering juga didatangi beberapa orang tidak dikenal dalam rangka merayu mereka, mereka masih bersikukuh. Selain kondisi psikologis yang ditimbulkan, dampak lingkungan otomatis juga mengganggu. Paling tidak, menurut laporan sidak DPRD komisi2, tanah-tanah yang mereka miliki memenyuai potensi terdampak polusi limbah.

Kasus berikutnya terjadi di Talango di Desa Kombang. Tanah-tanah yang telah dibeli investor pada kenyataannya masih belum berizin untuk dibangun tambak udang, namun, kenyataan di lapangan mereka sudah mulai mengerjakan pembuatan tambak tersebut. Terlepas dari siapa yang membekengenya, namun kejadian ini perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai kalangan baik pemerintah, masyarakat atau elemen-elemen yang lain.

Kasus-kasus ini hanya sebagian yang sempat terungkap ke permukaan. Tidak menutup kemungkinan masih banyak kasus yang lebih parah yang masih tidak terungkap atau sengaja dibungkam dengan berbagai cara. Mereka adalah pemodal yang hanya berhitung untung rugi apa pun yang harus mereka lakukan, bahkan untuk menumpahkan darah itu bukan hal yang mustahil. Selanjutnya, butuh kinerja cepat dan tanggap.
Referensi:
  •  Muthmainnah, Jembatan Suramadu, LKPSM, 1998.
  •  Koentowijoyo, Madura Dijual dalam Radikalisme Petani, Bentang: 1994.
  •  Kisaran harga antara 10.000/m sampai 25.000/m (Radar Madura, 21 Oktober 2016)
  •  Data BATAN yang diperoleh dari tim investigasi Majalah Fajar




Nur Abdillah Siddiq
Mahasiswa Jurusan Teknik Fisika ITS, sedang menggeluti NanoTeknologi dan dunia pengembangan diri.Memiliki misi besar untuk menjadi insan yang memberikan kontribusi nyata pada agama Islam, Negara Indonesia, dan Orang Tua Tercinta (H. Fajar Rahman dan Hj. Sri Tumiasih).

Kamis, Januari 03, 2013

Tema : Profesionalisme Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan


Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebagsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (UUD 1945 Alinea Ke 4)

Salah satu tujuan Pendidikan di Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Penjabaran dari cerdas sendiri adalah cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis. Selain itu, Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 menjelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Untuk mencapai tujuan dari pendidikan tersebut maka dibutuhkan komponen terkait seperti kurikulum, pendidik (guru), dan sekolah. Guru memiliki peran sentral dalam mencapai tujuan pendidikan tersebut. Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Namun, paradigma mengenai guru dalam membimbing anak didiknya masih negatif. Proses belajar-mengajar di sekolah kerap membosankan dan tidak menyenangkan karena guru yang terlalu dominan di ruang kelas (kompas.com). "Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa (Fasli Jalal, wakil menteri pendidikan RI).

Di era informasi saat ini, dimana ilmu pengetahuan sangat cepat berkembang dan aliran informasi begitu mudah untuk diperoleh, peran guru sebagai penyedia dan pemberi informasi sudah tidak relevan lagi. “Google telah menyediakan semuanya”, kalimat tersebut sering dilontarkan ketika seseorang hendak mencari informasi. Jadi, masih efektifkah metode lama dimana guru mengajar seorang diri, menginformasikan, menjelaskan, dan menerangkan? Bahkan, ilmu-ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh seorang guru cenderung telah kadaluarsa/usang jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang ada di dunia internet yang diperbaharui setiap detiknya.

Untuk itulah, jika definisi guru profesional secara konvensional adalah guru yang mengerti dan paham materi yang akan diajarkannya secara menyeluruh, tentu hal tersebut tidaklah cukup mengingat bergitu derasnya aliran informasi. Dengan kurikulum pendidikan terbaru yang lebih berorientasi pada partisipasi siswa (student based learning center) guru lebih berperan sebagai fasilitator dan motivator.

Peran fasilitator adalah guru membantu dalam menyediakan garis besar materi yang sedang dipelajari. Sedangkan peran motivator disini adalah peran yang sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang guru yang profesional, yang dalam pembahasan ke depan akan disebut dengan guru yang sesungguhnya. Jika pencitraan guru yang sebelumnya adalah monoton, membosankan, dan ditakuti oleh siswa, maka dengan seorang guru yang memiliki karakteristik seorang motivator diharapkan dapat menjadi guru yang menarik, menyenangkan, dan mampu menginspirasi siswanya untuk memahami lebih dalam mengenai materi yang sedang dipelajari,.

Dengan menjadi seorang motivator, seorang guru tidak hanya sekedar menyampaikan pelajaran, tetapi ia memaknainya dan menyukai aktivitas yang dilakukannya. Konsekuensi dari kedua hal tersebut adalah timbul antusiasme dikalangan siswanya. Namun, selama ini yang terlihat adalah seorang guru merasa bahwa kewajibannya adalah menyampaikan apa yang telah tertulis dalam silabus pembelajaran, melakukan kegiatan ceramah tanpa ada nilai tambah. Sangat sedikit guru yang benar-benar meresapi apa yang akan disampaikan kepada siswanya, sangat sedikit pula guru yang berusaha membangkitkan minat dan bakat siswanya tanpa terkesan menarik-narik tetapi mendorong-dorong.

Dengan kemampuan memotivasi, seorang guru dapat bertindak lebih cerdas, efektif dan efisien. Hal ini dikarenakan seorang guru motivator yang mampu memotivasi siswanya tidak perlu lagi menjelaskan materi pembelajaran secara panjang lebar dan mendetail. Guru dengan karakter motivator hanya memberikan garis besar materi dan mampu memotivasi siswanya agar mempelajari secara mendalam saat berada di luar kelas. Jadi, aktivitas di dalam kelas lebih difokuskan ke dalam diskusi, presentasi, dan tanya jawab siswa dengan guru.

Hal itu dapat tercapai apabila seorang guru benar-benar menguasai dan tertarik dengan bidang yang sedang di ajarkannya, sehingga ia seperti magnet yang mampu menarik siswa untuk mempelajari hal yang diberikannya lebih lanjut. Hal yang sering terjadi adalah banyak guru mengajar bidang yang tidak benar-benar ia kuasai. Sehingga terciptalah kejenuhan dan kebosanan.



Nur Abdillah Siddiq
Mahasiswa Jurusan Teknik Fisika ITS, sedang menggeluti NanoTeknologi dan dunia pengembangan diri.Memiliki misi besar untuk menjadi insan yang memberikan kontribusi nyata pada agama Islam, Negara Indonesia, dan Orang Tua Tercinta (H. Fajar Rahman dan Hj. Sri Tumiasih). Bagi yang ingin melakukan konsultasi mengenai pengembangan diri menuju legenda pribadi, dapat menghubungi via email Siddiq.tf@gmail.com atau no.hp 087750118140.

Kamis, April 12, 2012




Anda adalah Apa yang Anda Pikirkan.



ALCHEMIST-Sifat Jenius secara tradisional dilingkupi oleh sejumlah mitos yang menyesatkan. Mungkin orang-orang terintimidasi atau bahkan takut terhadap konsep jenius. Apapun dan bagaimanapun alasannya, mitos ini perlu diungkap, dibongkar dan dibuang jauh-jauh dari pemikiran kita.
Kata-Kata Bijak Bak Mutiara Albert Einstein
(Albert Einstein, ikon jenius)

Mitos 1: "PARA JENIUS MEMANG TERLAHIR"
Ide ini sangat lazim, namun tidak benar. Mengapa? Genetika memang mempengaruhi hidup kita, tetapi tidak sepenuhnya menentukan hidup kita. Jika mitos ini benar, mengapa kita tidak memenjarakan saja anak para pembunuh massal sejak mereka dilahirkan? Dunia barangkali akan jauh lebih efisien dan kurang kacau -dan kurang menarik- jika orang bisa diklasifikasikan begitu mudahnya. Pendidikan, pengaruh sosial dan lingkungan, pengalaman, ini sama pentingnya dengan warisan genetik. Bahkan dengan materi genetik terbaik sekalipun, tanpa ada pengaruh sosial yang positif dan keterampilan-keterampilan yang dipelajari, seseorang tidak bisa mencapai kondisi jenius.
Frasa "Para jenius memang Terlahir" digunakan sebagai suatu pembenaran untuk "KEMALASAN", sebuah alasan untuk tidak bekerja keras. Kenyataannya, kita semua terlahir lemah dan butuh bantuan. Bayi akan meninggal bila ditinggalkan tanpa perawatan selama seminggu. Disisi lain, bayi akan tersenyum bahagia dan tumbuh pesat bila dirawat secara layak. Para jenius dibentuk oleh orang-orang yang mencintainya: ibu, ayah, kakek-nenek, dan orang-orang dewasa lainnya yang menghabiskan hidupnya sembari berbagi tujuan, kebijaksanaan serta cintanya dengan sang cahaya dunia masa depan.

Mitos 2: "PARA JENIUS SUDAH TERLIHAT SEJAK MASA KANAK-KANAKNYA"
Mitos ini muncul dari pencampur-adukan gagasan tentang prodigy dan jenius. Mitos ini menyiratkan bahwa apabila seseorang anak tidak dikenali sebagai jenius di masa kanak-kanaknya, maka dia bukanlah seorang jenius. Sebenarnya, prodigy-lah yang dikenali dimasa kanak-kanaknya, prodigy adalah seorang individu yang menunjukkan hasil-hasil setingkat orang dewasa dimasa kanak-kanaknya. Jenius itu berbeda.

  • Albert Einstein, yang belum bisa bicara sampai berusia tiga tahun, dulunya adalah seorang dyslexic (penyakit dyslexia-penyakit tidak mampu membaca dikarenakan adanya cacat otak) yang mengalami banyak sekali kesukaran semasa dia bersekolah.
  • Pablo Picasso, baru berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan ayahnya didampingi ayahnya yang duduk didekatnya selama mata pelajaran di kelas.
  • Thomas Alfa Edison, beberapa kali mendapat nilai C (dibawah 60) untuk mata pelajaran fisika.
  • Robert Frost, menerbitkan buku pertamanya di usia tiga puluh delapan tahun.
  • Peter Roget, menciptakan kamus Thesaurus-nya yang terkenal setelah dia pensiun di usia tujuh puluh tahun.
  • Michailo Lomonosov, pendiri Universitas Moscow pernah dianggap buta huruf karena ketika itu dia dia tidak bisa membaca dalam bahasa Yunani dan Latin. Pada usia sembilan belas tahun, ketika dia datang ke Moscow dari sebuah desa yang jauh diwilayah utara "untuk belajar", dia terlebih dahulu harus menjalani Sekolah Dasar. bayangkan, di Indonesia, siswa Sekolah Dasar kelas 1 berumur 7 tahun, sedangkan Lomonosof berumur 19 tahun!
Bisakah orang dimasa Edison dan Einstein bersekolah memperkirakan bahwa kedua orang ini adalah calon jenius masa depan??
Apakah ada di antara anak-anak berusia tujuh tahun yang menertawakan dan mengejek Lomonosov yang berusia sembilan belas tahun, ataupun para guru yang tersenyum masam kepadanya, pernah mengira bahwa mereka ketika itu sedang MENGHINA calon pendiri sains Rusia modern, "Universitas Satu Orang"??
TIDAK !

Dengan mempertimbangkan ini semua, akankah seseorang berani untuk meramalkan dimasa kini bahwa anak ataupun orang dewasa tertentu ini atau itu tidak akan menjadi seorang jenius ditahun-tahun mendatang? Untuk itu, marilah kita secara sadar merubah pernyataan, "Para jenius sudah terlihat sejak masa kanak-kanaknya", dan mempromosikan sebuah pernyataan baru, "Marilah kita mengenali seorang Jenius dalam setiap anak dan setiap orang."

Mitos 3: "PARA JENIUS ADALAH ORANG-ORANG UNGGUL YANG BERBAKAT DALAM SEGALA HAL"
Ya, memang ada jenius-jenius seperti Leonardo da Vinci, Johan Wolfgang von Goethe, Benjamin Franklin, dan Lomonosov yang dianggap abadi baik dalam sains maupun seni. Tetapi ada begitu banyak yang lainnya, Ludwig Van Beethoven yang tuli, Braille dan Hellen Keller yang buta, yang secara meyakinkan menunjukan bahwa orang-orang yang tampaknya berada diluar batas pinggir sekalipun bisa menjadi jenius, apalagi anak yang berkembang secara normal atau bahkan anak yang berbakat seperti anda. Jadi, setiap anak dan setiap orang BISA MENJADI JENIUS. Sejarah menunjukkan bahwa setiap anak dan setiap orang memiliki peluang, peluang untuk bisa menjadi jenius.

Mitos 4: "PARA JENIUS ITU KEBETULAN"
Sudut pandang ini berasal dari serendipitas, yakni ilmu tentang penemuan-penemuan secara kebetulan. Sebagai contoh,
Wilhelm Roentgen menemukan radioaktivitas ketika dia dengan agak ceroboh meninggalkan beberapa materi di film yang dibungkus dengan kertas hitam. Dia secara kebetulan mengembangkannya, dan menemukan bintik-bintik putih yang aneh di film yang dikembangkan itu. Itu berarti terdapat beberapa sinar yang tidak dikenal (sinar X) sedang menerobos kertas hitam yang biasanya tidak diterobos sinar-sinar biasa. Orang bisa mengatakan bahwa Roentgen beruntung, tetapi orang lainnya belum tentu menganggap ini sebagai penemuan yang bersifat kebetulan.
Pertimbangkanlah hal berikut ini,
Seberapa seringkah kejadiannya seorang normal bekerja dengan bahan-bahan radioaktif, dan punya film didekatnya, bahkan untuk membuat satu kesalahan seperti itu sekalipun? Roentgen adalah seorang peneliti. Dia memang akan sampai pada penemuan itu; entah lebih awal satu hari, atau satu hari sesudahnya-ini pasti terjadi. Apalagi, pada masa itu penelitian berlangsung di banyak laboratorium; kalau bukan Roentgen, maka seorang yang lain pasti akan membuat penemuan "kebetulan" yang kurang-lebih sama. Akhirnya, orang-orang lainnya yang kurang siap untuk penemuan itu atau tidak cukup cerdas untuk melihatnya sebagai suatu penemuan, mungkin akan mengatakan bahwa film itu buruk, dan tidak akan menghubungkan bintik-bintik putih di film tersebut dengan sinar-sinar aneh yang menerobos itu.
Orang jenius adalah para pencari yang tekun, mereka berada digaris depansepanjang waktu, itulah sebabnya mengapa mereka tampaknya selalu hadir pada saat yang tepat.

Mitos 5: "PARA JENIUS ITU GILA"
Diantara 4 mitos yang telah disebutkan diatas, mitos ke 5 adalah mitos yang paling populer dan terikat dengan kuat disetiap kepala anak adam (terutama di Indonesia). Dan mitos ke 5 ini adalah mitos penghambat utama mengapa seseorang harus berpikir dua kali untuk menjadi jenius, mereka takut dianggap gila.

Jenius itu dapat melingkupi beberapa aspek, tidak hanya jenius akademik, tetapi ada jenius musik, jenius fisik, dan jenius visual.

Saya bisa juga menambahkan bahwa seringkali BUKAN SI JENIUS YANG GILA, MELAINKAN MASYARAKATNYA. Gallileo disiksa dan dan dipaksa untuk secara resmi menanggalkan pandangan-pandangan "Bid'ah"-nya agar bisa bertahan hidup, dan pandangan itu adalah tentang bumi yang berputar. Tomaso Campanella secara diam-diam menulis utopianya (City of the Sun) di atas potongan-potongan kertas saat ia dipenjara selama bertahun-tahun; mengapa ia dijebloskan di penjara tidak lain karena dia berani berpikir tentang sebuah masyarakat masa depan dimana semua orang setara. Socrates diadili, dijatuhi vonis, dan dihukum mati hanya karena pembicaraannya dengan pemuda di pasar.
Ini menunjukkan bagaimana masyarakat-masyarakat masa lalu (yang sering kali gila) menentang masa depan. Albert Einstein, sebagai contoh yang lebih kontemporer, cukup beruntung eksis di suatu masyarakat yang sudah lebih beradab, karena kalau tidak dia bisa saja mengalami nasib yang sama.

Jadi secara garis besar, para Jenius memiliki peluang yang sama untuk berakhir di rumah sakit jiwa seperti halnya orang-orang lain di dunia ini. Namun demikian ada tetapi-nya yang ini sangat penting: Orang jenius akan dikenang. Orang yang bukan jenius, dan berakhir di rumah sakit jiwa, hanya akan menjadi bagian dari statistik medis.

Seperti anda lihat, banyak mitos melingkupi ide tentang jenius. Untuk menjadi jenius, ABAIKANLAH mitos-mitos itu. Kepercayaan-kepercayaan yang menyesatkan itu menghambat kita untuk mencapai potensi-potensi kita sepenuhnya. Mitos-mitos itu memungkinkan kita menjadi malas; mitos tersebut mengatakan kepada kita bahwa orang-orang akan menganggap kita gila jika kita mengemukakan ide-ide baru yang menantang; mitos tersebut mengatakan kepada kita bahwa kita akan menjadi orang-orang yang terusir mitos tersebut mengatakan kepada kita bahwa sudah terlambat bagi kita untuk menjadi jenius.

SEMUA ITU SALAH !
Kini setelah anda bebas dari mitologi menyesatkan yang melingkupi ide tentang jenius, mari kita jangan berhenti untuk mengungkap jenius di dalam diri masing-masing !


Nur Abdillah Siddiq
Mahasiswa Jurusan Teknik Fisika ITS, sedang menggeluti NanoTeknologi dan dunia pengembangan diri.Memiliki misi besar untuk menjadi insan yang memberikan kontribusi nyata pada agama Islam, Negara Indonesia, dan Orang Tua Tercinta (H. Fajar Rahman dan Hj. Sri Tumiasih). Bagi yang ingin melakukan konsultasi mengenai pengembangan diri menuju legenda pribadi, dapat menghubungi via email Siddiq.tf@gmail.com atau no.hp 087750118140.

Minggu, Januari 08, 2012

ETOS POSTMODERN
Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tsb. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme. Masyarakat kita berada dalam pergolakan dan pergeseran kebudayaan. Seperti proyek bangunan Pruitt-Igoe, pemikiran dan kebudayaan modernisme sedang hancur berkeping-keping. Ketika modernisme mati di sekeliling kita, kita sedang memasuki sebuah era baru - postmodern. Fenomena postmodern mencakup banyak dimensi dari masyarakat kontemporer. Pada intinya, Postmodern adalah suasana intelektual atau "isme"- postmodernisme. Para ahli saling berdebat untuk mencari aspek-aspek apa saja yang termasuk dalam postmodernism. Tetapi mereka telah mencapai kesepakatan pada satu butir: fenomena ini menandai berakhirnya sebuah cara pandang universal. Etos postmodern menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten. Mereka menggantikan semua ini dengan sikap hormat kepada perbedaan dan penghargaan kepada yang khusus (partikular dan lokal) serta membuang yang universal. Postmodernisme menolak penekanan kepada penemuan ilmiah melalui metode sains, yang merupakan fondasi intelektual dari modernisme untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Pada dasarnya, postmodernisme adalah anti-modern. Tetapi kata "postmodern" mencakup lebih dari sekedar suasana intelektual. Penolakan postmodernisme terhadap rasionalitas terwujud dalam banyak dimensi dari masyarakat kini. Tahun-tahun belakangan ini, pola pikir postmodern terwujud dalam banyak aspek kebudayaan, termasuk arsitektur, seni, dan drama. Postmodernisme telah merasuk ke dalam seluruh masyarakat. Kita dapat mencium pergeseran dari modern kepada postmodern dalam budaya pop, mulai dari video musik sampai kepada serial Star Trek. Tidak terkecuali, hal-hal seperti spiritualitas dan cara berpakaian juga terpengaruh. Postmoderisme menunjuk kepada suasana intelektual dan sederetan wujud kebudayaan yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh modernisme. Postmodernitas menunjuk kepada era yang sedang muncul, era di mana kita hidup, zaman di mana postmodernisme mencetak masyarakat kita. Postmodernitas adalah era di mana ide-ide, sikap-sikap, dan nilai-nilai postmodern bertahta - ketika postmodernisme membentuk kebudayaan. Inilah era masyarakat postmodern. Tujuan kita dalam bab ini adalah melihat dari dekat fenomena postmodern dan memahami sedikit tentang etos postmodernisme. Apakah tanda-tanda ekspresi budaya dan dimensi hidup sehari-hari dari "generasi mendatang ini?" Apakah buktinya bahwa pola pikir baru sedang menyerbu kehidupan masyarakat sekarang ini?

FENOMENA POSTMODERN
Postmodernisme menunjuk kepada suasana intelektual dan ekspresi kebudayaan yang sedang mendominasi masyarakat kini. Sekonyong-konyong kita sedang berpindah kepada sebuah era budaya baru, postmodernisme, tetapi kita harus memperinci apa saja yang tercakup dalam fenomena postmodern.

KESADARAN POSTMODERN
Bukti-bukti awal dari etos postmodernisme senantiasa negatif. Etos tersebut merupakan penolakan terhadap pola pikir Pencerahan yang melahirkan modernisme. Kita dapat melacak etos postmodern di mana-mana dalam masyarakat kita. Yang terpenting, postmodernisme telah merasuk jiwa dan kesadaran generasi sekarang ini. Ini merupakan perceraian radikal dengan pola pikir masa lalu. Kesadaran postmodern telah melenyapkan optimisme "kemajuan" (progress) dari Pencerahan. Postmodern tidak mau mengambil sikap optimisme dari masa lalu. Mereka menumbuhkan sikap pesimisme. Untuk pertama kalinya, anak-anak pada masa kini berbeda keyakinan dengan orang tuanya. Mereka tidak percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik. Dari lubang yang besar di lapisan Ozon sampai kepada kekerasan antar remaja, mereka menyaksikan permasalahan semakin besar. Mereka tidak lagi percaya kalau manusia dapat menyelesaikan masalahnya dan kehidupan mereka akan lebih baik daripada orangtua mereka.
Generasi postmodern yakin bahwa hidup di muka bumi bersifat rawan. Mereka melihat bahwa model "manusia menguasai alam" dari Francis Bacon harus segera digantikan dengan sikap kooperatif dengan alam. Masa depan umat manusia sedang di persimpangan jalan. Selain sikap pesimis, orang-orang postmodern mempunyai konsep kebenaran yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Pemahaman modern menghubungkan kebenaran dengan rasio sehingga rasio dan logika menjadi tolok ukur kebenaran. Kaum postmodern meragukan konsep kebenaran universal yang dibuktikan melalui usaha-usaha rasio. Mereka tidak mau menjadi rasio sebagai tolok ukur kebenaran. Postmodern mencari sesuatu yang lebih tinggi daripada rasio. Mereka menemukan cara-cara nonrasial untuk mencari pengetahuan, yaitu: melalui emosi dan intuisi. Keinginan mencari model kooperatif dan penghargaan kepada cara nonrasional menciptakan sebuah dimensi holistik bagi kaum postmodern. Postmodern dengan holismenya menolak cita-cita Pencerahan, individu yang tidak berperasaan, otonom, dan rasional. Orang-orang postmodern tidak berusaha menjadi individu-individu yang mengatur dirinya secara penuh, tetapi menjadi pribadi-pribadi "seutuhnya". Postmodern dengan holisme-nya mencakup integrasi seluruh dimensi dari kehidupan pribadi - perasaan, intuisi, dan kognitif. Keutuhan juga mencakup kesadaran akan lingkungan dari mana kita berasal. Tentu saja area ini mencakup "alam" (ekosistem). Tetapi ia juga komunitas. Konsep "keutuhan" postmodernisme mencakup aspek-aspek agama dan kerohanian. Postmodernisme menegaskan bahwa keberadaan diri dapat dikenal dalam lingkup ketuhanan.
Karena setiap orang selalu termasuk dalam konteks komunitas tertentu, maka memahami kebenaran haruslah bersama-sama. Keyakinan dan pemahaman kita akan kebenaran, berakar kepada komunitas dimana kita berada. Mereka menolak konsep Pencerahan yang universal, supra-kultur, dan permanen. Mereka lebih suka melihat kebenaran sebagai ekspresi dari komunitas tertentu. Mereka yakin bahwa kebenaran adalah aturan-aturan dasar yang bertujuan bagi kesejahteraan diri dan komunitas bersama- sama. Dalam pengertian ini, kebenaran postmodern berhubungan dengan komunitas. Karena ada banyak komunitas, pasti ada kebenaran yang berbeda-beda. Banyak kaum postmodern percaya bahwa keanekaragaman kebenaran ini dapat hidup berdampingan bersama-sama. Kesadaran postmodern menganut sikap relativisme dan pluralisme. Tentu saja, relativisme dan pluralisme bukanlah barang baru. Tetapi jenis pluralisme dan relativisme dari postmodern ini berbeda. Relatif pluralisme dari modernisme bersifat individualistik: pilihan dan cita rasa pribadi diagung-agungkan. Mottonya adalah "setiap orang berhak mengeluarkan pendapat." Sebaliknya postmodernisme menekankan kelompok. Kaum postmodern hidup dalam kelompok-kelompok sosial yang memadai, dengan bahasa, keyakinan, dan nilai-nilainya tersendiri. Akibatnya pluralisme dan relativisme postmodern menyempitkan lingkup kebenaran menjadi "lokal". Suatu kepercayaan dianggap benar hanya dalam konteks komunitas yang meyakininya.
Karena itu ketika kaum postmodern memikirkan tentang kebenaran. Mereka tidak terlalu mementingkan pemikiran yang sistematis atau logis. Apa yang dahulu dianggap tidak cocok, kaum postmodern dengan tenang mengawinkannya. Mereka mengkombinasikan sistem-sistem kepercayaan yang dulu dianggap saling berbenturan, Misalnya, seorang Kristen postmodern percaya kepada doktrin-doktrin gereja sekaligus juga percaya kepada ajaran non-Kristen seperti reinkarnasi. Orang-orang postmodern tidak merasa perlu membuktikan diri mereka benar dan orang lain salah. Bagi mereka, masalah keyakinan/kepercayaan adalah masalah konteks sosial. Mereka menyimpulkan,"Apa yang benar untuk kami, mungkin saja salah bagi Anda," dan "Apa yang salah bagi kami, mungkin saja benar atau cocok dalam konteks anda."

KELAHIRAN POSTMODERNITAS
Sebenarnya postmodernisme telah mengalami masa-masa inkubasi yang cukup lama. Meskipun para ahli saling berdebat mengenai siapakah yang pertama kali menggunakan istilah tersebut, terdapat kesepakatan bahwa istilah tersebut muncul pada suatu waktu pada tahun 1930-an. Salah satu pemikir postmodernisme, Charles Jencks, menegaskan bahwa lahirnya konsep postmodernisme adalah dari tulisan seorang Spanyol Frederico de Onis. Dalam tulisannya "Antologia de la poesia espanola e hispanoamericana" (1934), de Onis memperkenalkan istilah tersebut untuk menggambarkan reaksi dalam lingkup modernisme. Yang lebih sering dianggap sebagai pencetus istilah tersebut adalah Arnold Toynbee, dengan bukunya yang terkenal berjudul "Study of History". Toynbee yakin benar bahwa sebuah era sejarah baru telah dimulai, meskipun ia sendiri berubah pikirannya mengenai awal munculnya, entah pada saat Perang Dunia I berlangsung atau semenjak tahun 1870-an. Menurut analisa Toynbee, era postmodern ditandai dengan berakhirnya dominasi Barat dan semakin merosotnya individualisme, kapitalisme, dan Kekristenan. Ia mengatakan bahwa transisi ini terjadi ketika peradaban Barat bergeser ke arah irasionalitas dan relativisme. Ketika hal ini terjadi, kekuasaan berpindah dari kebudayaan Barat ke kebudayaan non- Barat dan muncullah kebudayaan dunia pluralis yang baru. Meskipun istilah ini muncul pada tahun 1930-an, postmodernisme sebagai sebuah fenomena kultural belum menjadi sebuah momentum sampai 40 tahun setelahnya. Ia muncul pertama-tama dalam lingkup kecil masyarakat. Selama tahun 1960-an, suasana yang menandai postmodernisme sangat menarik bagi para seniman, arsitek, dan pemikir yang sedang mencari alternatif untuk melawan dominasi kebudayaan modern. Bahkan beberapa teolog ikut tertarik dengan trend tersebut, antara lain William Hamilton dan Thomas J.J. Altizer yang "mengundang arwah" Nietzsche untuk memberitakan matinya Allah. Perkembangan yang beraneka ragam ini membuat "pengamat kebudayaan" Leslie Fiedler pada tahun 1965 menambahkan istilah "post" kepada kata modern sehingga menjadi postmodernisme yang menjadi simbol kontra-kultural pada zaman itu. Selama tahun 1970-an tantangan postmodern menembus kepada arus budaya utama. Pada pertengahan tahun tersebut, muncullah seorang pembela postmodern yang paling konsisten mempropagandakan ide postmodern, yakni: Ihab Hassan. Ia menghubungkan postmodernisme dengan eksperimentalisme dalam bidang seni dan ultra teknologi dalam bidang arsitektur.
Tetapi etos postmodern secara tepat menjalar terus ke bidang-bidang lain. Profesor-profesor di universitas dalam berbagai fakultas mulai berbicara mengenai postmodernisme. Bahkan beberapa di antara mereka tenggelam dalam konsep-konsep postmodern. Akhirnya penerimaan etos baru begitu menjalar terus ke mana-mana sehingga istilah "postmodern" menjadi label yang digunakan bagi berbagai fenomena sosial dan budaya. Gelombang postmodern menyeret berbagai aspek kebudayaan dan beberapa disiplin ilmu, khususnya sastra, arstektur, film, dan filsafat. Pada tahun 1980-an, pergeseran dari lingkup kecil kepada lingkup besar terjadi. Secara bertahap, suasana postmodern menyerang budaya pop bahkan juga hidup sehari-hari masyarakat. Konsep-konsep postmodern bahkan bukan hanya diterima tetapi populer: sangat menyenangkan menjadi seorang postmodern. Akibatnya, para kritikus kebudayaan dapat berbicara mengenai "nikmatnya menjadi seorang postmodern." Ketika postmodernisme diterima sebagai bagian dari kebudayaan, lahirlah postmodernitas.

PENCETUS POSTMODERNITAS
Antara tahun 1960 dan 1990, postmodernisme muncul sebagai sebuah fenomena kebudayaan. Mengapa? Bagaimana kita menjelaskan munculnya etos ini dalam masyarakat kita? Banyak pengamat menghubungkan transisi ini dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada paruh kedua dari abad ke-20. Faktor pencetus terbesar adalah lahirnya era informasi. Penyebaran postmodernisme sejajar dan bergantung kepada transisi ke era informasi. Banyak sejarahwan menyebut era modern sebagai "era" industrialisasi, karena era ini didominasi oleh produksi barang-barang. Karena fokusnya pada produksi material-material, modernisme menghasilkan masyarakat industri. Simbolnya adalah pabrik. Sebaliknya era postmodern mengarahkan fokus kepada informasi. Kita sedang menyaksikan sebuah transisi dari masyarakat industri ke masyarakat informasi. Simbolnya adalah komputer.
Statistik kerja membuktikan bahwa kita sedang mengalami perubahan dari masyarakat industri kepada masyarakat informasi. Pada era modern, mayoritas lapangan pekerjaan terbuka dalam bidang produksi barang. Pada tahun 1970-an, hanya 13% dari buruh-buruh di Amerika bekerja dalam produksi barang; 60% bekerja dalam bidang informasi. Pelatihan untuk karir yang berkaitan dengan informasi - baik prosesor data maupun konsultan - menjadi sangat penting. Masyarakat informasi menghasilkan sekelompok orang baru. Ploretariat telah menyerahkan tempatnya kepada "cognitariat." Dan untuk bisnis, munculnya masyarakat postmodern berarti perubahan dari model "sentralisasi" kepada model "network." Struktur hirarki dalam pengambilan keputusan diganti dengan keputusan bersama. Era informasi bukan hanya mengubah pekerjaan kita tetapi juga menghubungkan seluruh belahan dunia. Masyarakat informasi berfungsi berdasarkan jaringan komunikasi yang meliputi seluruh muka bumi. Efisiensi sistem tersebut sangat mengejutkan. Pada masa lalu, informasi tidak secepat perjalanan manusia. Tetapi sekarang informasi dapat mengalir ke seluruh dunia secepat cahaya. Yang lebih mengagumkan lagi adalah kemampuan era postmodern untuk mendapatkan informasi dari mana saja secara cepat. Karena sistem komunikasi global yang begitu canggih, kita dapat mengetahui peristiwa apa saja di mana saja di dunia ini. Kita sedang menghuni sebuah desa global. Munculnya desa global menghasilkan dampak yang kontradiktif. Budaya massal dan ekonomi global yang dihasilkan era informasi berusaha menyatukan dunia menjadi "McWorld." Ketika planet ini menyatu pada satu sisi, saat yang sama ia hancur berantakan pada sisi lainnya. Munculnya postmodernisme menghasilkan kesadaran global dan menipiskan nasionalisme. Nasionalisme semakin suram dengan munculnya gerakan menuju "retribalisasi," menuju loyalitas kepada lingkungan lokal seseorang. Ini bukan hanya terjadi di Afrika tetapi juga di Kanada. Kanada berkali-kali terancam oleh disintegrasi antara kelompok berbahasa Perancis di propinsi Quebec dan propinsi-propinsi di sebelah barat. Orang-orang sedang mengikuti motto: "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal."
Munculnya masyarakat informasi memberikan dasar berpijak bagi etos postmodern. Hidup di desa global menyadarkan penduduknya mengenai keanekaragaman budaya di bumi ini. Kesadaran ini memaksa kita mengadopsi pola pikir pluralisme. Pola pikir ini bukan hanya bersikap toleran kepada kelompok lain, tetapi ia menegaskan dan merayakan keanekaragaman. Perayaan keanekaragaman budaya menuntut gaya baru - eklektisisme - gaya postmodernitas. Masyarakat informasi telah menyaksikan perubahan besar dari poduksi massal kepada produksi segmen. Produksi barang-barang yang sama telah berubah menjadi produksi barang-barang yang beraneka ragam. Kita berada pada "budaya citarasa" yang menawarkan berbagai macam gaya yang tidak ada habisnya. Dulu siswa-siswi SMP dan SMU hanya memiliki tren suka-olahraga dan malas-belajar, sekarang mereka dapat mengadopsi tren apa saja sesuai cita-rasa dan gaya yang mereka sukai.

ALAM POSTMODERNISME TANPA TITIK PUSAT
Ciri khas postmodernisme adalah tidak adanya titik pusat yang mengontrol segala sesuatu. Meskipun postmodern dalam masyarakat bermacam-macam bentuknya, mereka sama-sama sepakat bahwa tidak ada fokus atau titik pusat. Tidak ada lagi standar umum yang dapat dipakai mengukur, menilai atau mengevaluasi konsep-konsep dan gaya hidup tertentu. Lenyaplah sudah usaha mencari sumber otoritas pusat. Lenyaplah sudah usaha untuk mencari kekuasaan yang absah dan berlaku untuk semua. Titik pusat sudah bergeser, masyarakat kita seperti kumpulan barang- barang yang beraneka ragam. Unit-unit sosial yang lebih kecil hanya disatukan secara geografis. Filsuf postmodern, Michel Foucault, menawarkan sebuah usulan nama bagi dunia tanpa titik pusat, yaitu "heterotopia." istilah Foucault menggarisbawahi perubahan besar yang sedang kita alami. Keyakinan Pencerahan akan suatu kemajuan ayng terus-menerus melahirkan visi modernisme. Arsitek modernisme berusaha membangun sebuah bangunan masyarakat yang sempurna. Kasih, keadilan, dan perdamaian akan memerintah masyarakat tersebut. kaum postmodern membuang jauh-jauh impian kosong tersebut. Mereka hanya menawarkan keanekaragaman yang tak terhitung banyaknya, "multiverse" telah menggantikan model "universe" dari modernisme.

POSTMODERNISME; FENOMENA KULTURAL & PERAYAAN KERAGAMAN
"Lenyapnya titik pusat" yang dipopulerkan oleh etos postmodern merupakan ciri utama situasi masa kini. Ini nampak jelas dalam kehidupan kultur masyarakat kita. Seni telah mengalami perubahan bersamaan dengan perubahan modern menjadi postmodern. Ciri utama budaya postmodern adalah pluralisme. Untuk merayakan pluralisme ini, para seniman postmodern mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan menjadi sebuah karya seni. Teknik seni yang demikian bukan hanya merayakan pluralisme, tetapi merupakan reaksi penolakan terhadap dominasi rasio melalui cara yang ironis. Buah karya postmodernisme selalu ambigu (mengandung dua makna). Kalaupun para seniman ini menggunakan sedikit gaya modern, tujuannya adalah menolak atau mencemooh sisi-sisi tertentu dari modernisme. Post-modernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Post-Modernisme adalah kelanjutan dari modernisme, sekaligus melampaui modernisme. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda,ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme. Charles Jencks, What is Post-Modernisme? 3d ed. (New York: St Martin's Press, 1989), hal. 7 Salah satu tehnik campuran yang sering digunakan adalah "collage". "Collage" menawarkan suatu cara alamiah untuk mencampurkan bahan-bahan yang saling bertentangan. "Collage" menjadi wahana kritik postmodern terhadap mitos pengarang/seniman tunggal. Teknik lainnya adalah "bricolage", yaitu: penyusunan kembali berbagai objek untuk menyampaikan pesan ironis bagi situasi masa kini.
Seniman postmodern menggunakan berbagai gaya yang mencerminkan suatu eklektisisme yang diambil dari berbagai era dalam sejarah. Seniman umumnya menganggap cara demikian harus ditolak karena menghancurkan keutuhan gaya-gaya historis. Para kritikus tersebut menyalahkan gaya postmodern karena tidak ada ke dalaman atau keluasan, melanggar batas sejarah hanya demi memberikan kesan untuk masa kini. Gaya dan historis dibuat saling tumpang tindih. Mereka mendapatkan postmodernisme sangat kurang dalam orisinalitas dan tidak ada gaya sama sekali. Namun ada prinsip lebih mendalam yang ditampilkan melalui ekspresi budaya postmodernisme. Maksud dan tujuan karya-karya postmodernisme bukanlah asal-asalan saja. Sebaliknya postmodern berusaha menyingkirkan konsep mengenai "seorang pengarang/pelukis asli yang merupakan pencetus suatu karya seni". Mereka berusaha menghancurkan ideologi "gaya tunggal" dari modernisme dan menggantikannya dengan budaya "banyak gaya". Untuk mencapai maksud tersebut, para seniman ini memperhadapkan para peminatnya dengan beraneka ragam gaya yang saling bertentangan dan tidak harmonis. Teknik ini - yang mencabut gaya dari akar sejarahnya - dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan berusaha meruntuhkan sejarah. Seniman-seniman postmodern sangat berpengaruh bagi budaya Barat masa kini. Pencampuran gaya, dengan penekanan kepada keanekaragaman, dan penolakan kepada rasionalitas menjadi ciri khas masyarakat kita. Ini semakin terbukti dalam banyak ekspresi kebudayaan lainnya.

ARSITEKTUR POSTMODERN
Modernisme mendominasi arsitektur (juga bidang lainnya) sampai pada tahun 1970-an. Para arsitek modern mengembangkan gaya yang terkenal dengan International style (gaya internasional). Arsitektur modern mempunyai keyakinan kepada rasio manusia dan pengharapan untuk menciptakan manusia idaman. Berdasarkan prinsip tersebut, arsitek-arsitek modern mendirikan bangunan sesuai dengan prinsip kesatuan (unity). Frank Llyod Wright menjadi contoh bagi arsitek lainnya. Ia mengatakan bangunan-bangunan modern harus merupakan sebuah kesatuan organis. Bangunan harus merupakan "kesatuan yang agung" (one great thing) dan bukan kumpulan "bahan yang tidak agung" (little things). Sebuah bangunan harus mengekspresikan makna tunggal. Karena memegang prinsip kesatuan, arsitektur modern mempunyai ciri khas "univalence." Bangunan-bangunan modern menunjukkan bentuk yang sederhana dan ini nyata dari pola glass-and-steel boxes. Arsitektur mencari bentuk sederhana yang dapat menyampaikan sebuah makna tunggal. Cara yang digunakan adalah "repetisi"(pengulangan). Karena mereka juga hendak sempurna dalam geometri, bangunan-bangunannya menyerupai model "dunia lain." Arsitektur modern berkembang dan menjadi arus yang dominan. Ia memajukan program industrialisasi dan menyingkirkan aneka ragam corak lokal. Akibatnya ekspansi arsitektur modern sering menghancurkan struktur bangunan tradisional. Ia hampir meratakan semua bangunan tradisional dengan bulldozer. Bulldozer adalah alat yang merupakan cetusan jiwa modern untuk "maju"(progress).
Beberapa arsitek modern belum puas jika perubahan hanya dalam bidang arsitektur. Mereka ingin agar perubahan dalam bidang arsitek, terjadi juga dalam bidang-bidang seni, ilmu pengetahuan, dan industri. Mari bersama-sama kita bayangkan, pikirkan, dan ciptakan sebuah struktur masa depan baru yang meliputi bidang arsitektur, seni pahat, seni lukis, sebagai sebuah kesatuan. Suatu hari semua ini akan menjulang sampai ke langit melalui tangan berjuta-juta seniman. Ini menjadi keyakinan baru seperti sebuah kristal. Walter Gropius," Programme of the staatloches Bauhaus in Weimar" (1919), dalam Programmes and Manifestos on Twentieth-Century Architecture,ed. Ulrich Conrads, terj. Michael Bullock (London: Lund Humphries, 1970), Hal. 25. Arsitektur postmodern muncul sebagai reaksi terhadap arsitektur modern. Postmodern merayakan sebuah konsep "Multivalence" (melawan "univalence" dari modernisme). Arsitektur postmodern menolak tuntutan modern di mana sebuah bangunan harus mencerminkan kesatuan. Justru sebaliknya buah karya postmodern berusaha menunjukkan dan memperlihatkan gaya, bentuk, corak, yang saling bertentangan. Penolakan terhadap arsitektur modern nampak jelas dalam beberapa contoh. Misalnya, arsiterktur postmodern sengaja memberikan ornamen (hiasan). Ini merupakan lawan dari arsitektur modern yang membuang segala hiasan-hiasan yang tidak perlu. Contoh lain, arsitektur postmodern menggunakan beberapa teknik dan gaya seni tradisional, sedangkan arsitektur modern membuang segala gaya dan teknik seni tradisional.
Penolakan oleh postmodern terhadap modern di dasarkan kepada sebuah prinsip. Prinsip arsitektur postmodern adalah semua arsitektur bersifat simbolik. Semua bangunan, termasuk banguan modern, sebenarnya sedang berbahasa dengan bahasa tertentu. Karena terlalu memikirkan fungsi banyak arsitek modern menyingkirkan dimensi tersebut. Justru karena terlalu berfokus kepada fungsi (utility), karya seni modern hanya, merupakan sebuah teknik membangun tanpa nuansa artistik. Dimensi artistik telah lenyap dari karya seni modern. Padahal sebuah struktur bangunan memerlukan dimensi artistik agar dapat menyampaikan suatu kisah atau melambangkan suatu dunia imajiner. Karena terlalu menekankan fungsi. keajaiban dunia seperti bangunan Katedral masa silam tidak lagi populer pada zaman modern. Padahal bangunan seperti Katedral mengarahkan mata kita kepada suatu dunia lain. Ini yang dikritik oleh kaum postmodern terhadap kaum modern. Sebuah bangunan mempunyai kekuatan untuk menjadi apa yang diinginkannya, mengatakan apa yang ingin dikatakannya sehingga telinga kita mulai mendengar apa yang ingin disampaikan oleh bangunan tersebut. Charles Moore, dalam Conversations with Architecs, ed. John Cook Heeinrich dan Klotz (New York: Praeger, 1973), hal. 243. Kaum Postmodern berusaha mengembalikan elemen "fiksi" dari sebuah arsitektur maka mereka menambahkan ornamen-ornamen pada arsitektur. Mereka ingin agar bidang arsitektur tidak terperangkap oleh pertanyaan "apa fungsinya?" Arsitektur harus kembali berperan untuk menciptakan "bangunan-bangunan yang kreatif dan imajinatif." Kritik postmodern terhadap modern semakin menjadi-jadi. Kaum modern menekankan adanya universalitas dan adanya nilai-nilai yang tidak terbatas sejarah, dan ini ditolak secara tegas oleh kaum postmodern. Selama ini kaum modern menganggap karya-karya mereka sebagai hasil rasio dan logika. Padahal kaum postmodern melihat dengan jelas semuanya itu hanyalah usaha mendapatkan kekuasaan dan menguasai orang lain. Bahasa modern adalah bahasa kekuasaan. Bangunan-bangunan modern menggunakan bahan-bahan industri dan mereka melayani sistem industri. Bentuk-bentuk demikian mewujudkan dunia baru yang dikuasai sains dan teknologi. Kaum postmodern mau melenyapkan bahasa kekuasaan tersebut. Kaum modern menekankan konsep kesatuan dan keseragaman (uniformity) arsitektur yang ternyata sangat tidak manusiawi. Arsitektur demikian berbicara dengan bahasa produksi massal dan standar. Kaum postmodern menolak secara tegas konsep dan bahasa demikian. Mereka ingin menemukan sebuah bahasa baru yang menghargai keanekaragaman dan pluralisme.

POSTMODERN DALAM BIDANG SENI
Arsitektur postmodern lahir sebagai penolakan terhadap prinsip-prinsip arsitektur modern pada abad ke-20. Kehadiran postmodern dalam bidang seni juga menampakkan gejala penolakan yang serupa. Arsitektur modern tidak menghargai gaya masa lalu. Pakar seni seperti Clement Greenberg menyatakan bahwa seni modern juga menolak gaya-gaya seni sebelumnya. Kaum modern menemukan identitas dirinya dengan membuang segala sesuatu yang lain dari dirinya; dengan cara ini, para seniman modern mengatakan bahwa hasil karya seni mereka bersifat "murni" (orisinal). Kecenderungan modern dalam bidang seni sama dengan bidang arsitektur, yaitu: "univalence". Melalui ini, kebanggaan seniman modern hanyalah jika mereka mempunyai "stylistic integrity" (integritas gaya).
Sebaliknya seni postmodern berangkat dengan kesadaran adanya hubungan erat antara miliknya dan milik orang lain. Karena itulah, seni postmodern menganut keanekaragaman gaya atau "multivalence". Kalau modern menyukai "murni." maka postmodern menyukai "tidak murni." Pada dasarnya seni postmodern tidak eksklusif dan sempit tetapi berbauran (sintetis). Karya seni tersebut dengan bebas memasukkan berbagai macam kondisi, pengalaman, dan pengetahuan jauh melampaui obyek yang ada. Karya ini tidak melukiskan pengalaman tunggal dan utuh. Justru yang hendak dicapai adalah keadaan seperti sebuah ensiklopedia, yaitu: masuknya jutaan elemen, penafsiran, dan respons. Howard Fox, "Avant-Garde in the Eighties", dalam The Post-Avant- Garde: Painting in the Eighties, ed. Charles Jencks (London: Academy Editions, 1987), hal. 29-30. Banyak seniman postmodern menggabungkan keanekaragaman dengan teknik pencampuradukan. Seperti kita ketahui, teknik yang mereka sukai adalah "collage". Kenyataanya, Jacques Derrida (dijuluki "Aristoteles tukang campur") menegaskan collage sebagai bentuk utama dari wacana postmodern. Perlahan namun pasti, "collage" menarik para pecinta seni ke dalam makna yang dihasilkan "collage" tersebut. Karena "collage" bersifat heterogen, maka makna yang dihasilkannya tidak mungkin tunggal dan stabil. "Collage" menarik para pecinta seni untuk selalu memperoleh makna baru melalui aneka ragam campuran di dalamnya.
Akhirnya seni pencampuradukan menjadi sebuah "pastiche". Tujuan teknik ini (yang digunakan oleh high-culture dan Video MTV) adalah memperhadapkan para penonton dengan gambar-gambar yang saling bertentangan sehingga tidak ada lagi makna objektif. Dengan pola yang saling bertentangan, warna yang tidak selaras, dan tata huruf yang kacau, "pastiche" menyebar dari dunia seni menuju kehidupan sehari- hari. Ini nampak dari sampul buku, sampul majalah, dan iklan-iklan yang ada. Segala campuran dan keanekaragaman itu bukan hanya untuk menarik perhatian. Daya tarik sebenarnya tidak sedangkal itu, namun jauh lebih dalam. Ini merupakan bagian dari sikap postmodern, yaitu: menantang kekuatan modernisme yang ada dalam berbagai lembaga, tradisi, dan aturan. Seniman postmodern tidak suka kepada pengagung-agungan seorang seniman modern karena kemurnian hasil karyanya. Mereka tidak suka kepada apa yang disebut "stylistic integrity" (integritas gaya). Bagi mereka, tidak ada hasil karya seni yang tunggal. Mereka sengaja menggunakan metode pinjaman dari hasil karya lain, kutipan, petikan, kumpulan, dan pengulangan dari karya-karya yang ada. bagi mereka, "seniman tunggal yang menghasilkan karya tunggal" hanyalah dongeng belaka. Kritik postmodern sangat radikal. Kritik tersebut dapat ditemukan dalam karya fotografi seorang bernama Sherrie Levine. Levine memfoto ulang foto-foto indah hasil karya dua fotografer terkenal Walker Evans dan Edward

Weston. Setelah memfoto ulang, Levine menegaskan bahwa foto- foto itu adalah karya pribadinya. Pembajakannya sangat jelas sehingga orang lain tidak mudah mengecapnya sebagai plagiat (pengekor) biasa. Memang tujuannya bukanlah menipu orang-orang dengan mengatakan bahwa itu adalah hasil karyanya dan bukan hasil karya orang lain. Tujuan utamanya adalah membuat orang berfikir keras untuk membedakan manakah "yang asli" dan manakah yang "tiruan". Maka kesimpulannya: tidak ada perbedaan antara "karya asli" dan "karya tiruan."

POSTMODERN DALAM BIDANG TEATER
Teater adalah wujud penolakan postmodern terhadap modern yang paling jelas. Kaum modern melihat jelas sebuah karya seni sebagai karya yang tidak terikat waktu dan ide-ide yang tidak dibatasi waktu. Etos postmodern menyukai tragedi, dan tragedi selalu ada dalam setiap karya seni. Kaum postmodern melihat hidup ini seperti sebuah kumpulan cerita sandiwara yang terpotong-potong. Maka teater adalah sarana terbaik untuk menggambarkan tragedi dan pertunjukan. Tidak setiap karya teater merupakan wujud nyata etos postmodern. Karya teater postmodern mulai timbul pada tahun 1960-an. Akarnya sudah ada sebelum tahun 1960-an, yaitu karya seorang penulis Perancis bernama Antonin Artaud pada tahun 1930-an. Artaud menantang para seniman (khususnya dalam bidang drama) untuk memprotes dan menghancurkan pemujaan kepada karya seni klasik. Ia sangat mendukung pergantian drama tradisional dengan 'teater keberingasan." Ia berseru agar dihapuskannya gaya kuno yang berpusat kepada naskah. Ia mengusulkan gaya baru yang berpusat kepada simbol- simbol teater termasuk di dalamnya adalah: pencahayaan, susunan warna, pergerakan, gaya tubuh, dan lokasi. Artaud juga meniadakan perbedaan antara aktor dan penonton. Ia ingin agar penonton juga mengalami suasana dramatis seperti sang aktor. Tujuan Artaud adalah memaksa penonton untuk berhadapan dengan momentum kenyataan hidup secara langsung pada saat itu, yang bagaimanapun juga tidak akan terulang melalui aturan-aturan sosial sehari-hari.
Pada tahun 1960-an, sebagian impian Artaud menjadi kenyataan. Para ahli mulai memikirkan kembali hakikat dari teater. Maka mereka menyerukan agar terdapat kebebasan dalam penampilan. Penampilan tidak boleh diatur oleh otoritas apa pun. Beberapa ahli ini menemukan bahwa naskah atau teks adalah otoritas yang menindas kebebasan. Untuk memecahkan masalah ini, mereka mengurangi naskah atau teks sehingga setiap penampilan menjadi spontan dan unik. Setelah beberapa sekali ditampilkan, tidak ada lagi pengulangan. Penampilan itu sekali saja dan akan hilang selama-lamanya setelah itu. Ahli lainnya menganggap sutradara adalah orang yang menindas kebebasan penampilan. Mereka berusaha memecahkan masalah ini, dengan menekankan improvisasi dan memakai sutradara lebih dari satu orang. Maka produksi teater/film bukan lagi produksi tunggal dan utuh. Teater postmodern menampilkan usulan-usulan para ahli di atas. Mereka membuat berbagai elemen dalam teater, seperti suara, cahaya, musik, bahasa, latar-belakang, dan gerakan saling berbenturan. Dengan demikian, teater postmodern sedang menggunakan teori tertentu yang disebut dengan estetika ketiadaan (berbeda dengan estetika kehadiran). Teori estetika ketiadaan menolak adanya konsep kebenaran yang mendasari dan mewarnai setiap penampilan. Yang ada dalam setiap penampilan adalah kekosongan ("empty presence"). Seperti etos postmodern, makna sebuah penampilan hanya bersifat sementara, tergantung dari situasi dan konteksnya. Panggung teater tidak lagi menjadi tempat pengulangan suatu peristiwa atau suatu obyek, entah yang ada sekarang atau sebelumnya. Teater tetap berfungsi tanpa kehadiran Allah. Jacques Darrida, Writing and Difference, terj: Alan Bass (Chicago: Chicago University Press, 1978), hal. 237.

POSTMODERN DALAM BIDANG TULISAN-TULISAN FIKSI
Pengaruh etos postmodern dalam literatur sulit dicari. Para ahli sastra terus berdebat mengenai ciri utama fiksi postmodern yang membedakannya dari fiksi-fiksi sebelumnya. Namun gaya penulisan ini mencerminkan ciri utama yang telah kita saksikan dalam bidang-bidang lain. Seperti gaya postmodern umumnya, tulisan fiksi postmodern menggunakan teknik pencampuradukan. Beberapa penulis mengambil elemen-elemen tradisional dan mencampurkannya secara berantakan untuk menyampaikan suatu ironi mengenai topik-topik yang biasa dibahas. Bahkan beberapa penulis lainnnya mencampurkan kejadian nyata dan khayalan. Pencampuradukan ini terjadi bahkan kepada tokoh-tokoh fiksi tersebut. Beberapa penulis postmodern memusatkan perhatian kepada tokoh-tokoh khayalan dengan segala perilakunya. Pada saat yang sama, tokoh-tokoh khayalan itu adalah tokoh-tokoh yang nyata dalam sejarah manusia. Dengan cara ini, sang penulis berhasil menarik perhatian dan respons emosional dan moral para pembaca. Beberapa penulis postmodern mencampuradukkan yang nyata dan yang khayal dengan menyisipkan diri mereka ke dalam cerita itu. Bahkan mereka pun turut membicarakan berbagai masalah dan proses yang diceritakannya. Melalui ini, sang penulis mencampurkan yang nyata dan yang fiksi. Teknik ini menekankan hubungan yang erat antara penulis dan tulisan fiksinya.
Tulisan fiksi adalah sarana yang dipakai oleh penulis untuk berbicara sehingga suara penulis tidak dapat dipisahkan dari kisah fiksi tersebut. Tulisan fiksi postmodern mencampuradukan dua dunia yang tidak ada hubungan satu sama lain. Dunia-dunia tersebut masing-masing otonom. Tokoh-tokoh dalam tulisan fiksi itu merasa bingung di dunia mana mereka berada, dan apa tindakan mereka berikutnya di tengah dunia- dunia yang saling bertubrukan. Teknik pencampuradukan ini digunakan untuk menunjukkan sikap anti- modernisme. Tujuan para penulis modern adalah memperoleh makna tunggal. Sebaliknya, kaum postmodern ingin mengetahui bagaimana kenyataan-kenyataan yang amat berbeda, dapat berjalan dan saling bercampur. Seperti kebudayaan postmodern lainnya, tulisan-tulisan ini memusatkan perhatian kepada kefanaan dan kesementaraan. Mereka menolak konsep kebenaran kekal dari kaum modern. Tulisan fiksi ini sengaja mengarahkan fokus kepada kesementaraan agar para pembaca tidak lagi melihat dunia ini dari titik puncak yang tidak terbatas oleh waktu. Mereka ingin agar para pembaca menyaksikan sebuah dunia yang hampa, tanpa adanya hal-hal yang kekal dan selalu berada dalam gelombang kesementaraan. Dan perlukah kita berkata bahwa semakin jelas sang penulis menyatakan dirinya sendiri dalam teks-teks yang dia buat, secara paradoks juga makin tidak terelakan adanya kenyataan bahwa sang penulis tersebut, sebagai sebuah suara, hanyalah sebuah fungsi dari fiksinya sendiri, sebuah bangunan retorika, bukan seorang yang berotoritas tetapi justru menjadi obyek dan sasaran penafsiran pembaca? David Lodge,"Mimesis and Diegesis in Modern Fiction," dalam The Post-Modern Reader, ed. Charles Jencks (New York: St. Martin's Press,1992), hal. 194-195. Kadang-kadang para penulis tersebut menciptakan efek serupa dengan memasukkan bahasa yang membongkar struktur pikiran yang sudah baku. Mereka juga menolak rasio sebagai hakim yang memutuskan apakah sebuah cerita mampu memaparkan kejadian nyata.
Contoh umum dari fiksi modern adalah kisah detektif. Katakanlah cerita mengenai seorang detektif bernama Sherlock Holmes. Ia bertugas membongkar kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Kisah seperti ini hendak menunjukkan kekuatan rasio dan logika dalam memecahkan sebuah masalah atau misteri. Maka cerita ini merupakan sebuah cerita yang lengkap dan selesai. Contoh dari fiksi postmodern adalah kisah mata-mata. Meskipun terjadinya dalam dunia nyata, kisah demikian selalu mencampurkan dua macam dunia yang berbeda. Apa yang dianggap nyata, ternyata terbukti hanyalah khayalan. Ada suatu dunia lain di balik dunia nyata ini, yang lebih jahat namun lebih nyata daripada dunia nyata. Dengan mencampurkan dua macam dunia itu, kisah tersebut membuat pembaca merasa tidak tenang dan tidak nyaman. Apakah penampilan seseorang menunjukkan dirinya yang sesungguhnya? Manakah yang sebenarnya dan manakah yang tipuan? Kisah mata-mata mendorong kita mempertanyakan dunia kehidupan kita. Apakah kita juga hidup dalam dua macam dunia? Apakah orang-orang di sekitar kita benar-benar seperti penampilan mereka di hadapan kita? Apakah peristiwa-peristiwa di sekitar kita benar-benar seperti yang nampak di depan mata kita? Novel fiksi sains adalah salah satu bentuk sastra postmodern. Novel ini merupakan penolakan terhadap penelitian modern. Novel fiksi ini lebih suka mencari sesuatu yang baru, dan bukan menyibak misteri alam untuk menemukan rumus-rumus pasti. Novel ini mempertentangkan berbagai dunia dan realitas supaya nampak perbedaan dan pertentangan di antara mereka. Novel fiksi sains tersebut membuat kita bertanya-tanya mengenai dunia kita: Apakah realitas itu? Apa yang mungkin? Kekuatan apa yang sedang bekerja sekarang?

POSTMODERNISME SEBUAH FENOMENA DALAM BUDAYA POP
Kebanyakan dari kita berhubungan langsung postmodernisme melalui novel fiksi sains dan novel mata-mata. Keduanya sangat berpengaruh dalam budaya populer kita sekarang. Namun secara tidak sadar, kita telah terbuka kepada etos postmodern. Keterbukaan kepada etos postmodern melalui budaya pop adalah ciri khas postmodern. Ciri khas lainnya adalah tidak mau menempatkan "seni klasik tinggi" di atas budaya "pop." Postmodern unik karena ia menjangkau bukan kelas elite tetapi kelas masyarakat biasa, masyarakat yang terbiasa dengan budaya pop dan media massa. Hasil karya postmodern juga bermakna ganda. Mereka berbicara dengan sebuah bahasa dan menggunakan elemen-elemen yang dapat diterima oleh orang-orang awam ataupun seniman dan arsitek handal. Dengan cara demikian, postmodernisme berhasil menyatukan dua alam yang berbeda, yaitu profesional dan populer. Perkembangan teknologi membantu penyebaran postmodern ke dalam sisi- sisi penting dan budaya pop. Salah satu sisi terpenting adalah industri film. Teknologi pembuatan film sangat cocok dengan etos postmodern, yakni: film menggambarkan yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Sekilas lalu, film adalah sebuah cerita utuh yang ditampilkan oleh para aktor dan aktris. Kenyataannya, film adalah rekayasa teknologi dengan bantuan ahli-ahli spesialis dari berbagai bidang yang tidak jarang kelihatan dalam film. Adanya kesatuan dalam sebuah film sebenarnya adalah ilusi. Film berbeda dengan teater. Film tidak pernah berisi penampilan sekelompok aktor/aktris sekaligus secara utuh dan berkesinambungan. Apa yang penonton lihat "berkesinambungan" adalah semacam sisa dari berbagai adegan dalam proses pembuatan film itu sendiri, yang tidak saling berhubungan baik secara waktu maupun tempat.
Alur cerita sebuah film hanyalah tipuan. Apa yang nampak "berhubungan" atau "berkesinambungan" sebenarnya hanyalah kumpulan adegan yang diambil pada waktu dan tempat yang berbeda-beda. Alur sebuah film yang kita lihat, ternyata tidak seperti demikian alurnya pada waktu film berada dalam proses pembuatan tersebut. Yang menyatukan adegan-adegan yang terpecah-pecah itu adalah seorang editor. Dialah yang menyambungkan adegan-adegan yang tidak ada hubungannya satu sama lain. Kadang-kadang peran yang sama belum tentu diperankan oleh satu aktor. Sutradara sering menggunakan peran pengganti (stunt-man) untuk adegan- adegan berbahaya. Kemajuan teknologi memungkinkan edit untuk menduplikasi wajah sang aktor sehingga wajahnya dalam film lama dapat diambil dan dimasukkan dalam film yang baru. Semuanya ini adalah hasil rekayasa komputer. Akhirnya, film yang kita tonton adalah produk kecanggihan teknologi. Tim-tim yang berbeda menggunakan fotografi dan metode lainnya untuk mengumpulkan bahan-bahan. Bahan-bahan ini digabungkan oleh editor untuk menghasilkan apa yang nampak sebagai "kesatuan" di depan mata penonton. Berbeda dengan teater, kesatuan dan kesinambungan sebuah film adalah jasa teknologi, dan bukan jasa aktor-aktornya. Karena kesatuan sebuah film terletak dalam teknik pembuatannya, maka sutradara dan editor mempunyai kebebasan untuk mengatur dan memanipulasi jalannya cerita dengan berbagai cara. Mereka dapat mencampurkan adegan-adegan yang tidak saling berhubungan tanpa harus mengorbankan kesatuan film itu.
Pembuat film postmodern senang mengubah konsep tempat dan konsep waktu menjadi di sini dan kini selamanya. Usaha mereka dalam hal ini dipacu oleh banyaknya film yang telah diproduksi sebelumnya sehinga mereka mempunyai bahan untuk mencampurkannya. Misalnya: adegan Humphrey Bogart dalam film "The Last Action Hero" dan Groucho Marx dalam iklan Diet Pepsi. Kemajuan teknologi memungkinkan penggabungan keduanya, penggabungan "dunia nyata" dengan kenyataan lain. Contoh lain adalah penggabungan tokoh kartun dan tokoh manusia dalam film "Who Framed Roger Rabbit?" Kemampuan seorang sutradara menggabungkan berbagai potongan menjadi sebuah film yang utuh, memungkinkannya untuk melenyapkan perbedaan antara kebenaran dan dongeng, kenyataan dan khayalan. Sutradara- sutradara postmodern menggunakan kesempatan ini untuk mewujudnyatakan etos postmodern. Misalnya, film-film postmodern membuat film fiksi dan fantasi seperti layaknya kejadian nyata (film "Groundhog Day").
Mereka menggabungkan kisah film fiksi dengan aspek dokumenter (film "The Gods Must Be Crazy"). Mereka mencampurkan sebagian catatan sejarah dengan spekulasi dan mencampurkan dunia-dunia yang tidak berhubungan yang dihuni oleh tokoh-tokoh yang tidak jelas manakah yang asli (film "Blue Velvet"). Hidup dalam era postmodern berarti hidup di dalam dunia yang menyerupai film. Sebuah dunia dimana kebenaran dan dongeng bercampur. Kita melihat dunia sama seperti kita melihat film, dan kita curiga apakah yang kita lihat hanyalah sebuah ilusi. Kita dapat memahami sesuatu dalam pikiran sang sutradara. Ia mengajak kita melihat sesuatu yang sering terabaikan/terlupakan dalam dunia yang film itu gambarkan. Sebaliknya ketika melihat dunia sebenarnya, kaum postmodern tidak lagi percaya adanya sebuah Pikiran di baliknya.

TELEVISI DAN PENYEBARAN BUDAYA POSTMODERN
Teknologi pembuatan film memberikan dasar pijakan untuk budaya pop postmodern. Namun televisi merupakan sarana yang lebih efisien untuk menyebarkan etos postmodern ke seluruh lapisan masyarakat. Dilihat dari satu sisi, televisi hanyalah saranan yang efektif untuk menantikan turunnya film dari bioskop ke televisi. Banyak program televisi yang isinya hanya film-film, mulai dari yang pendek sampai miniseri. Televisi adalah sebuah sarana yang digunakan oleh film-film untuk menyerbu kehidupan sehari-hari jutaan orang. Sejauh ini, televisi hanyalah perpanjangangan tangan dari industri film. Tetapi lepas dari hubungan dengan film, televisi memperlihatkan ciri khasnya sendiri. Dalam banyak hal, televisi jauh lebih fleksibel daripada film. Televisi melampaui film dengan menyajikan siaran langsung. Kamera televisi dapat menayangkan gambar kejadian langsung kepada pemirsa di seluruh belahan dunia. Kemampuan untuk menyiarkan secara langsung membuat orang percaya bahwa televisi menyajikan peristiwa aktual yang benar-benar terjadi, tanpa adanya penafsiran, edit, atau komentar. Karena inilah televisi telah menjadi kriteria untuk membedakan yang nyata dan tidak. Banyak pemirsa tidak menganggap penting banyak hal. Tetapi jika CNN, Sixty Minutes menayangkannya, mereka akan segera merasa hal tersebut penting. Segala sesuatu tidak penting jika tidak ditayangkan televisi. Televisi mampu menayangkan fakta secara langsung dan mampu menyebutkan produksi-produksi film. Kemampuan ganda demikian membuat televisi memiliki kekuatan yang unik. Ia mampu mencampurkan "kebenaran" (apa yang orang banyak anggap sebagai kejadian nyata) dengan "fiksi" (apa yang orang banyak anggap sebagai khayalan yang tidak pernah terjadi dalam kenyataan). Film tidak dapat melakukan ini. Televisi masa kini melakukan hal tersebut terus-menerus. Ketika ada siaran langsung, di tengah-tengah siaran itu selalu diputus oleh "pesan dari sponsor."
Televisi melampaui film untuk mewujudkan etos postmodern. Televisi komersil menyajikan berbagai gambar kepada permirsa. Berita sore akan menghantam penonton dengan gambar-gambar yang tidak saling berhubungan: perang di suatu daerah terpencil, pembunuhan di dekat rumah, ucapan dari seorang politikus, skandal seks terbaru, penemuan ilmiah baru, berita olahraga. Campuran-campuran ini disisipkan dengan iklan baterai yang tahan lama, sabun mandi yang lebih bersih, makan pagi yang lebih sehat, dan liburan yang lebih menyenangkan. Dengan menampilkan berbagai gambar tersebut (berita dan iklan), televisi menciptakan kesan bahwa berita dan iklan sama pentingnya. Siaran berita diikuti oleh program-program utama yang terlalu banyak untuk menarik dan membuat pemirsa bertahan. Maka isi program-program tersebut adalah film laga, skandal, kekerasan, dan seks. Drama-drama malam hari mempunyai bobot yang sama dengan berita sebelumnya. Dengan cara ini, televisi melenyapkan perbedaan antara kebenaran dan fiksi, antara peristiwa yang benar-benar memilukan hati dan peristiwa sepele. Ini terjadi bukan hanya pada satu saluran televisi, tetapi berpuluh bahkan ratusan saluran yang berbeda-beda. Hanya dengan sebuah remote control di tangan, seseorang dapat memilih apa pun yang ia suka, mulai dari berita terbaru, pertandingan tinju, laporan ekonomi, film kuno, laporan cuaca, film komedi, film dokumenter, dan sebagainya.
Dengan menawarkan begitu banyak campuran gambar, secara tidak sengaja televisi menyejajarkan hal-hal yang tidak saling cocok. Televisi membutuhkan kejelasan waktu dan tempat. Televisi mencampuradukkan masa lalu dan masa kini, yang jauh dan yang dekat, segala sesuatunya di- bawa menjadi kini dan di sini, di hadapan pemirsa televisi. Dengan cara ini, televisi memperlihatkan dua ciri khas postmodern: menghapus batas antara masa lalu dan masa kini; dan menempatkan pemirsa dalam ketegangan terus-menerus. Banyak pengamat sosial menganggap televisi sebagai cermin dari kondisi psikologis dan budaya postmodern. Televisi menyajikan begitu banyak gambar yang tidak berhubungan dengan realitas, gambar-gambar yang saling berinteraksi terus-menerus tanpa henti. Film dan televisi telah di persatukan oleh sebuah alat yang lebih baru - komputer pribadi. Lenyapnya ego adalah tanda kemenangan postmodernisme....
Sang diri diubahkan menjadi sebuah tampilan kosong yang berisi kebudayaan yang telah jenuh namun hiperteknis. Arthur Kroker, Marilouise Kroker dan David Cook, "Panic Alphabet", dalam Panic Encyclopedia: The Definitive Guide to the Postmodern Scene (Montreal: New World Perspectives, 1989), hal. 16. Munculnya "monitor" - layar bioskop, layar kaca televisi ataupun monitor computer, melenyapkan perbedaan antara diri sebagai subjek dan dunia sebagai objek. "Monitor" bukan sekadar objek di luar diri kita yang kita sedang lihat. Yang terjadi dalam monitor bukan sesuatu kejadian di luar sana dan diri kita di sini. "Monitor" membawa kita ke dunia luar sama seperti dunia luar masuk ke dalam diri kita. Yang terjadi dalam televisi merupakan manifestasi diri kita, yang terjadi dalam diri kita adalah penjelmaan televisi. Televisi telah menjadi sebuah wujud nyata dari jiwa kita. Hidup dalam era postmodern berarti hidup dalam dunia yang dipenuhi oleh berbagai gambar yang bercampur-aduk. Dunia televisi memecahkan gambar-gambar menjadi potongan-potongan dan kaum postmodern tetap yakin bahwa itu hanyalah campuran gambar-gambar. 

WUJUD-WUJUD LAIN POSTMODERNISME DALAM BUDAYA POP
Film telah menyajikan budaya postmodern, dan televisi menyebarkannya , tetapi musik rock merupakan ciri yang paling khas dari budaya pop postmodern. Lirik lagu-lagu rock mencerminkan semboyan postmodern. Hubungan antara music rock dan budaya postmodern lebih mendalam lagi. Musik rock memiliki ciri utama dari postmodern, yaitu: fokus kepada global dan lokal. Musik rock kontemporer mendapatkan banyak penggemar dan mampu menyatukan seluruh dunia. Tentunya kita ingat dengan tokoh-tokoh musik rock yang melakukan tur keliling dunia. Pada saat yang sama, musik rock mempertahankan selera lokal. Dalam penampilan grup-grup rock yang besar maupun yang kecil (tidak terkenal), musik rock memperlihatkan pluralitas gaya yang diambil dari gaya musik setempat (lokal dan etnis tertentu). Yang tidak kalah penting, musik rock juga menggunakan sarana produksi elektronik sebagaimana televisi dan film. Dimensi penting dari budaya rock adalah penampilan langsung dari bintang-bintangnya. Konser musik rock tidak seperti konser tradisional dimana sang penyanyi berusaha berkomunikasi secara akrab dengan penonton. Yang terjadi dalam konser musik rock adalah "kedekatan massal yang dibuat-buat." Konser rock kini merupakan peristiwa massal, melibatkan puluhan ribu penggemar. Kebanyakan penggemar tidak dapat melihat penampilan sang bintang dari dekat. Namun mereka masih berusaha mengalami pengalaman tersebut. Penampilan tersebut diperlihatkan kepada mereka melalui banyak layar video yang menyorot wajah sang bintang dari dekat. Tehnik ini menciptakan jarak antara sang bintang dan penonton. Penggemar kelompok rock Jubilant merasa dekat dengan idola mereka sekalipun hanya lewat layar televisi. Teknologi mengubah kedekatan dalam sebuah pertunjukkan langsung menjadi kumpulan ribuan penggemar yang menonton layar video bersama-sama sementara mereka diserbu dengan berbagai-bagai efek cahaya, suara dan sebagainya.
Teknologi melenyapkan perbedaan antara penampilan aslinya dan tayangannya di televisi. Teknologi melenyapkan perbedaan antara penampilan langsung dan duplikasinya dalam musik. Penampilan langsung bukan lagi realitas yang terdapat dalam konteks khusus. Ia adalah campuran antara apa yang sang bintang tampilkan dan apa yang teknologi hasilkan. Penampilan itu dibungkus dalam kemasan teknologi setelah itu baru disajikan kepada para penggemar. Wujud etos postmodern yang lebih sederhana adalah cara berpakaian. Model pakaian postmodern mempunyai kecenderungan yang mirip dengan budaya pop lainnya. Kita melihat ditonjolkannya merek dan label produk. Ini melenyapkan perbedaan antara pakaian dan iklan pakaian.
Wajah postmodern nampak dalam "bricolage." Berbeda dengan pola pakaian tradisional yang menyatukan berbagai corak secara harmonis, gaya postmodern sengaja menggabungkan elemen-elemen yang bertentangan, misalnya: pakaian dan aksesoris dari 10, 20, 30 dan 40 tahun lalu dipakai bersama-sama. Percampuran yang bertentangan tersebut dimaksudkan sebagai sebuah ironi atau ejekan terhadap model pakaian modern, bahkan terhadap seluruh industri pakaian modern. Dari musik rock ke turisme ke televisi sampai ke bidang pendidikan, yang dipromosikan

oleh iklan dan yang dicari oleh konsumen bukan lagi barang-barang, tetapi pengalaman. Steven Connor, Postmodernist Culture (Oxford: Basil Blackwell, 1989), hal 154.
Budaya pop zaman kita mempunyai dua ciri khas postmodern: pluralisme dan anti-rasionalisme. Seperti nyata dari cara mereka berpakaian dan musik yang mereka dengar, kaum postmodern tidak lagi percaya kalau dunia mereka mempunyai sebuah fokus. mereka tidak lagi percaya bahwa rasio manusia dapat menangkap struktur logika alam semesta. Mereka hidup dalam dunia yang tidak membedakan antara kebenaran dan dongeng. Akibatnya mereka menjadi pengumpul bermacam-macam pengalaman, gudang yang berisi berbagai hal sementara, jembatan yang dilintasi bermacam-macam gambar, dan dihujani dengan aneka ragam media dalam masyarakat postmodern. Postmodernisme memiliki asumsi yang bermacam-macam. Ini terbukti dari berbagai sikap dan ekspresi mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan tersebut, kita menemukan bermacam-macam orang dalam masyarakat. Ekpresinya bervariasi dari cara berpakaian sampai televisi, termasuk musik dan film di dalamnya. Postmodernisme menjelma dalam beraneka ragam ekspresi budaya, termasuk arsitektur, seni, dan sastra. Lebih dari segalanya, postmodernisme adalah sebuah pemandangan intelektual.
Postmodernisme menolak gambaran mengenai seorang pemikir tunggal yang dilahirkan oleh Pencerahan. Postmodern mengejek mereka yang merasa yakin dapat melihat dunia dari suatu titik puncak seolah-olah mereka dapat berbicara demi kepentingan seluruh umat manusia. Postmodernisme telah menggantikan cita-cita pencerahan tersebut dengan keyakinan baru, yaitu: semua pernyataan mengenai kebenaran dan kebenaran itu sendiri terbatas oleh kondisi sosial.



Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload






Fullerena

Yuk Taaruf









Nur Abdillah Siddiq
Mahasiswa Jurusan Fisika ITS, sedang menggeluti Fiber Optik dan dunia pengembangan diri. Berusaha mengabdi dan memberikan kontribusi nyata pada agama Islam, Negara Indonesia, dan Orang Tua Tercinta (H. Fajar Rahman dan Hj. Sri Tumiasih).

Blog ini adalah website pribadi Nur Abdillah Siddiq. Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Popular Posts

Yuk Baca !

Yuk Baca !