Tampilkan postingan dengan label Genetika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Genetika. Tampilkan semua postingan

Senin, Agustus 30, 2010


Sebelum ada ilmu sains yang terorganisasi atau bahkan metode ilmiah yang mengharuskan adanya bukti, di dunia barat telah dikenal luas sebuah teori mengenai asal usul kehidupan. Bentuk kehidupan di bumi diciptaka oleh suatu kekuatan supranatural atau kekuasaan Tuhan. Teori ini di kenal dengan nama Teori Ciptaan (special creation).







Teori yang melibatkan kekuatan supranatural atau kekuasaan Tuhan ini menimbulkan kesulitan mendasar yakni mencampur adukkan agama dengan ilmu pengetahuan. Kepercayaan agama berdasar pada iman, yang merupakan keputusan individual dan subjektif. Sebaliknya, ilmu pengetahuan di bangun berdasarkan bukti-bukti objektif. Secara tekhnik, kedua usaha ini begitu terpisah dan gagasan-gagasannya tidak bisa di bandingkan secara absah. Namun kita manusia dan kita benar-benar membandingkan keduanya.

Apa yang membuat pertanyaan tentang asal mula kehidupan begitu sulit adalah karena itu telah terjadi di masa lalu, sehingga mustahil bagi kita untuk mempelajari bukti-bukti langsungnya. Mirip pemain golf yang bermain sendirian yang memukul bola ke sebuah lubang 3 km jauhnya secara membabi buta dan, ketika melihat ke lapangan rumput, ia menemukan bolanya di dalam lubang.


Sekali pukul langsung masuk? Mungkin. Ia tidak bisa memutar balik waktu untuk mengetahuinya apakah bolanya melayang sendiri - atau dilakukan oleh pelawak yang usil.

Jadi, secara formal ilmu pengetahuan menolak campur tangan Tuhan dalam asal - usul kehidupan, baik karena kurangnya bukti tetapi juga Tuhan tidak memiliki wujud. Banyak sekali ilmuan yang percaya pada Tuhan, tetapi ketika mereka mengenakan topi ilmiahnya, mereka harus tunduk pada aturan ilmu pengetahuan. Jadi, apabila ditemukan kehidupan di tempat lain di alam semesta ini, maka pasti menjadi pukulan yang menarik bagi kepercayaan agama demikian pula ilmu pengetahuan.







Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload



Fullerena

Dimasa lalu orang-orang telah memiliki banyak sekali gagasan mengenai bagaimana kehidupan di bumi bisa terjadi. Beberapa diantaranya jauh dari lingkup sains. Kita akan mulai dengan membahas beberapa catatan tentang asal mula kehidupan dari sudut pandang sejarah. Lalu kita akan melihat apa yang sejauh ini telah dipelajari oleh ahli sains mengenai pertanyaan itu, yakni asal usul kehidupan. Dan akhirnya kita, kita akan menjelaskan mengapa ilmu sains masih menganggap asal usul kehidupan sebagai masalah yang belum terpecahkan.


Mengapa para ilmuan mempelajari masalah yang masih menjadi tanda tanya besar dan terlarang, seperti dari manakah asal-usul kehidupan dan bagaimanakah kehidupan itu terjadi?. Banyak yang dimotifasi oleh keingintahuan yang besar, tetapi terdapat dorongan khusus yang sangat menarik dalam proyek penyelesaian masalah ini. Lembaga asal-usul kehidupan di Amerika Serikat akan menganugerahkan hadiah asl-usul kehidupan bagi siapa saja yang bisa mengajukan “sebuah mekanisme yang cukup ilmiah tentang munculnya instruksi genetika secara spontan dari alam yang cukup untuk membangkitkan kehidupan” hadiahnya sebesar 1,35 miliar dolar atau sekitar 13.5 triliyun rupiah – jumlah yang sangat memotivasi.


Pada tahun 1862, Louis Pasteur menghadapi sebuah tantangan untuk membuktikan benar atau salah teori Abiogenesis. Tanpa memperdulikan nasihat teman-temannya, akhirnya ia memecahkan teka-teki itu dan memenangkan hadiah dari akademi ilmu pengetahuan Prancis atas usaha dan kegigihannya. Apa yang kita butuhkan untuk sekarang ini adalah Pasteur dari abad kedua puluh satu.

Teori awal asal usul kehidupan yang pernah berkembang, antara lain :

1. Teori Ciptaan (special creature).
2. Teori Kozmozoik.
3. Teori Abiogenesis.
4. Teori Biogenesis (special creature).

Adapun percobaan-percobaan yang telah dilakukan oleh para ilmuan antara lain:

1.Percobaan Fransisco Redi.
2. Percobaan Lazzaro Spalanzi.
3.Percobaan Louis Pasteur.
4.Percobaan Stanley Miller.


Pengakuan Evolusionis

Alexander Oparin: “Asal-usul sel masih menjadi teka-teki.”

Tantangan untuk menjelaskan asal usul kehidupan merupakan sumber krisis terbesar yang dihadapi teori evolusi. Alasannya, molekul-molekul organik sangat kompleks dan pembentukannya tidak mungkin dapat diterangkan sebagai suatu kebetulan. Selain itu, telah terbukti bahwa sel organik mustahil terbentuk secara kebetulan.

Evolusionis dihadapkan pada pertanyaan tentang asal usul kehidupan pada perempat kedua abad ke-20. Pakar terkemuka teori evolusi molekuler, evolusionis Rusia, Alexander I. Oparin, menuliskan dalam bukunya “The Origin of Life” yang terbit pada tahun 1936:

Sayangnya, asal usul sel masih menjadi pertanyaan, yang merupakan titik tergelap dari teori evolusi yang utuh.”

Jeffrey Bada: “Kemunculan kehidupan di bumi adalah masalah terbesar yang belum terpecahkan.”

Sejak Oparin, banyak evolusionis telah melakukan penelitian dan pengamatan untuk membuktikan bahwa sebuah sel dapat terbentuk secara ke-betulan. Akan tetapi, setiap upaya hanya memperjelas desain sel yang kompleks sehingga semakin menggugurkan hipotesis mereka. Profesor Klaus Dose, kepala Institut Biokimia di Universitas Johannes Gutenberg, menyatakan:

Percobaan tentang asal usul kehidupan di bidang kimia dan evolusi molekuler selama lebih dari 30 tahun, menghasilkan persepsi yang lebih baik tentang kompleksitas asal usul kehidupan di bumi ini, dan bukannya memberikan jawaban yang mereka harapkan. Saat ini, semua diskusi mengenai teori-teori dasar dan penelitian di bidang ini berakhir dengan kebuntuan atau pengakuan atas ketidaktahuan. 2

Jeffrey Bada dari Institut San Diego Scripps memperjelas ketidakberdayaan evolusionis terhadap kebuntuan ini : “Kini, saat meninggalkan abad ke-20, kita masih menghadapi masalah terbesar yang belum terpecahkan sejak awal abad ke-20: Bagaimana kehidupan muncul di muka bumi




Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload



Fullerena

Kamis, Januari 28, 2010


Penyakit Huntingdon adalah penyakit genetik yang dominan. Penyakit ini menakutkan dan cukup meresahkan. Apabila dalam diri anda mewarisi satu salinan gen penyebab Huntingdon, maka anda akan menderita penyakit tersebut. Namun orang yang menderita penyakit Huntingdon tampak normal hingga usia paruh baya. Pada usia antara 35 hingga 50 tahun gen tersebut menjadi aktif dan gejala-gejala penyakit mulai muncul.

Sejarahnya adalah pada tahun 1872, George Huntington menulis tentang sebuah kelainan turunan yang menurutnya hanya ditemukan didaerah ujung timur dari Long Island. Awal sejarah penyakit tersebut kemudian terlacak dari kedua kakak beradik yang tinggal di Suffolk. Sungguh suatu ironi bahwa nama penyakit yang disebabkan mutasi tersebut juga mengalami Mutasi. Karena adanya salah eja yang lolos dari pemeriksaan pada sebuah publikasi tahun 1893, nama penyakit Huntington berubah menjadi Huntingdon dan sejak saat itu, baik Huntington dan Huntingdon digunakan bersama-sama. Namun kenyataan menunjukkan para dokter lebih makhfum untuk menggunakan isitilah penykit Huntingdon.

Gejala-gejala yang ditimbulkan sangatlah tidak menyenangkan, terutama disaat usia produktif dan menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Terjadi pemerosotan mental dan fisik yang parah dan serius, kejang otot diluar kendali. Perubahan kepribadian, kegilaan dan akhirnya karena terjadinya komplikasi, Kematian. Sehingga penyakit ini benar-benar tidak diharapkan keberadaaannya pada diri seseorang.

Gen penyandi penyakit Huntingdon berhasil dikloning pada tahun 1993, dan sekarang ada uji sederhana untuk mendiagnosa apakah seseorang membawa gen tersebut. Namun siapapun itu, termasuk saya yang curiga bahwa dirinya membawa gen tersebut menghadapi sebuah dilemma berat. Apakah ia sebaiknya memeriksakan diri dan mengetahui nasibnya ? atau tidak memeriksakan diri dan menyerahkan semuanya pada takdir.

Dilema seseorang yang harus memilih untuk melakukan pemeriksaan genetic penyakit Huntingdon dinamakan kompleks Tiresias. Dalam mitos Yunani, sang peramal Tiresias mengajukan sebuah dilemma kepada Oedipus, “Menyedihkan Untuk Menjadi Bijaksana Ketika Kebijaksanaan itu tidak menghasilkan apa-apa”.

Banyak orang yang memilih untuk menyerahkan pada takdirnya saja. Namun apabila seseorang memang mempunyai gen pembaa penyakit tersebut dan tidak memeriksakan diri, ia akan menurunkan gen tersebut pada anaknya tanpa diketahui sebelum gejala-gejala mulai muncul.

Tetapi,,,,,,salah satunya optimism yang ada dari pilihan diagnosis awal gen penyebab penyakit Huntingdon adalah kontribusinya terhadap pengembangan pengobatan yang efektif untuk penyakit tersebut.

Rabu, Januari 27, 2010


Human genome project adalah salah satu proyek ilmiah yang paling ambisius setelah proyek eksplorasi ruang angkasa. Tujuan utamanya adalah memetakan posisi keseluruhan dari sekitar 100.000 gen di 23 pasang kromosom. Hal tersebut menyebabkan para ilmuan harus mencari keseluruhan sekuens dari huruf DNA dalam resep genetik manusia yang jumlahnya sekitar 3000 juta huruf atau 3 milyar huruf.

Lomba membaca sekuens basa delam genom merupakan usaha mencari uang, selain dari mencari pemahaman ilmiah. Sejumlah ilmuan dan perusahaan biotekhnologi berkeinginan untuk mematenkan gen manusia, terutama gen-gen yang menyebabkan penyakit. Gen penyebab penyakit sangat penting dalam dunia kedokteran sehingga akan sangat menguntungkan bagi perusahaan obat dan ilmuan. Namun ide mengenai kepemilikan sekuens DNA merupakan hal yang luar biasa gila. Lagi pula, para ilmuan tidak menciptakan gen, mereka hanya mengidentifikasinya.

Setelah kita mampu untuk membaca sekuens huruf keseluruhan genom manusia dari awal hingga akhir, tak pelak lagi tujuan ambisius tersebut akan dicoba untuk dicapai. Tugas tersebut tentu saja berat, namun selama beberapa tahun terakhir telah menjadi lebih mudah berkat kemajuan pesat dalam tekhnik sekuensing DNA. Saat ini, sekuensing DNA hampir seluruhnya otomatis. Sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh mesin, bukan manusia. Anda dapat meletakkan sebuah tabung berisi sedikit DNA diujung sebuah mesin dan setelah beberapa jam kamu dapat memperoleh sekuens huruf DNA di ujung yang lain.

Meskipun sistem tersebut berjalan dengan baik, hanya sekitar 400 huruf yang dapat dibaca pada setiap kalinya. Dengan bekerja setiap hari, satu orang akan membutuhkan waktu sekitar 10.000 tahun untukmembaca sekuens huruf dari keseluruhan genom manusia. Oleh karena itu, Human Genome Project dibagi-bagi kepada banyak ilmuan dinegara-negara yang berbeda, termasuk AS dan Inggris. Mereka telah menyelesaikan pembacaan seluruh huruf DNA pada tahun 2005 lalu.

Karena sebagian besar genom terdiri atas sampah genetik, pihak yang mengkritik Human Genome Project berargumen bahwa sebagian besar uang dihabiskan untuk melakukan sekuensing DNA yang nilai ilmiahnya kurang. Namun, DNA sampah kemungkinan memiliki fungsi yang penting namun belum diketahui.

Apa saja informasi yang akan diberikan DNA kita tentang diri kita???? Pada awalnya tidak banyak. Sekuens huruf DNA membosankan apabila hanya dibaca begitu saja. Mengandung seribu kali lebih banyak huruf dari pada seluruh novel tetralogi Laskar pelangi karangan Andrea Hirata, informasi mengenai lokasi gen dan fungsinya tidak banyak diberikan oleh sekuens huruf tersebut. Meskipun demikian, pihak yang mengorganisir proyek tersebut berharap bahwa sekuens DNA lengkap dari genom manusia akan menjadi buku referensi berharga bagi penelitian bidang genetika manusia.


Sabtu, Oktober 24, 2009


Bila ada satu penyakit yang menanamkan rasa takut dipikran kita melebihi dari penyakit lainnya, itu adalah kanker. Rasa takut tersebut cukup logis dan masuk akal. Kenyataan pahit menunjukkan bahwa satu dari empat orang akan meninggal karena suatu jenis kanker. Kanker disebabkan mutasi pada gel yang mengendalikan pembelahan sel.

Diperkirakan sebesar 10% dari semua kasus kanker disebabkan langsung oleh terwarisnya gen yang termutasi. Namun sebagian besar kanker disebabkan oleh interaksi antara faktor lingkungan – pola makan dan gaya hidup kita – dan gen yang kita warisi.

Pembelahan sel diperlukan oleh organisme untuk dapat tumbuh serta berkembang. Namun pembelahan tersebut harus dikendalikan dan diawasi. Pembelahan sel dikendalikan oleh dua macam gen, gen yang memiliki efek berlawanan. ONKOGEN membuat sel melakukan pembelahan, sedangkan ANTI ONKOGEN menekan terjadinya pembelahan. Interaksi kedua gen tersebut memastikan bahwa organ-organ dan jaringan tubuh kita tumbuh hingga mencapai ukuran yang tepat. Ketika usia kita mecapai dua puluhan, sebagian besar sel tubuh kita telah berhenti membelah dan kita telah tumbuh sempurna.

Namun mutasi yang terjadi pada onkogen dan anti onkogen dari sel dapat mengacaukan sistem pemberi sinyal. Sebuah sel yang telah berhenti membelah dan berfungsi seperti biasa, sekarang diubah menjadi sel kanker yang mulai membelah kembali. Seiring dengan pembelahannya, sel-sel kanker membentuk tumor, yang dapat menggangu fungsi normal jaringan asal sel tersebut.
Mutasi penyebab kanker terjadi melalui proses yang sama dengan mutasi gen lain. Alasan mengapa merokok menyebabkan kanker paru-paru bukan disebabkan oleh karsinogen dalam asap rokok yang secara spesifik menjadikan onkogen dan anti onkogen sebagai sasaran. Sebenarnya karsinogen tersebut meningkatkan laju mutasi keseluruhan dari DNA, yang akhirnya meningkatkan kemungkinan terjadi mutasi digen penyebab kanker.

Apabila pada tahap tersebut tumor diangkat oleh seorang dokter bedah, masih ada kemungkinan besar bagi pasien untuk sembuh. Namun apabila tumor tumbuh semakin membesar, sebagian sel kanker akan berpindah ke jaringan lain untuk membentuk tumor sekunder. Saat itu kemungkinan untuk sembuh sangatlah kecil.

Perang melawan kanker telah menghabiskan biaya milyaran dolar, dan tidak banyak hasil yang diperoleh. Sebagian besar terobosan besar dalam dunia kedokteran adalah berkenaan dengan deteksi dan diagnosis kanker, bukan pengobatannya. Namun perkembangan baru dalam rekayasa genetika dan juga terapi gen memberi harapan bagi masa depan.



Senin, September 14, 2009


Istilah mutasi mendapat predikat yang buruk dalam pemikiran kita. Begitu mendengar mutasi muncul suatu pemikiran akan keabnormalan. Kita kadang mengartikan istilah mutan sebagai sesuatu yang memiliki kelainan atau berbentuk tidak karuan. Namun sebenarnya kita semua adalah jenis mutan. Mutasi kecelakaan genetik acak merupakan sumber utama keanekaragaman genetik. Tanpa adanya mutasi, tidak akan ada keanekaragaman, begitu menjemukannya hidup jika tak ada keanekaragaman. Tanpa keanekaragaman tidak akan ada evolusi. Kalau bukan karena mutasi, bumi Masih dipenuhi oleh populasi massa molekul identik dalam sup purba. Jadi, berterimakasihlah pada mutasi dan kepada Tuhan yang menciptakan mutasi itu terjadi.Mutasi (perubahan spontan pada DNA) dapat terjadi dalam berbagai cara. Mutasi dapat berupa subtitusi (penggantian) satu huruf dengan huruf yang lain: delesi (penghilangan) satu huruf atau beberapa huruf yang berururutan, insersi (penyisipan), adapun inversi (pembalikan) dan duplikasi (penggandaaan) saru huruf atau beberapa huruf yang berurutan. Catatan, huruf disini adalah basa penyusun DNA yakni A (Adenin), T (Timin), C (Sitosin), G (Guanin) yang berperan dalam penyandian asam amino.
Untuk lebih jelas, simaklah uraian dibawah ini.
Jenis mutasi Sekuens Awal Sekuens yang termutasi
SubtitusiATCGTTAGGCATCCTTAGGC
DelesiATCGTTAGGCATCGGGC
InsersiATCGTTAGGC
ATCGTCCATAGGC
InversiATCGTTAGGCATTTGCAGGC
DuplikasiATCGTTAGGCATCGTTCGTTAGGC


Perhatikan huruf yang dicetak tebal
Terkadang perubahan secara acak pada sandi genetik dapat menghasilkan versi baru sebuah protein yang berfungsi lebih baik dari pada versi sebelumnya. Semua perbedaan genetik antar individu atau antar species dihailkan oleh mutasi yang pernah terjadi dalam sejarah.Namun dibalik peranannya yang besar dalam sumber keanekarahaman, mutasi dapat menimbulkan bencana yang besar. Mutasi dapat memiliki dampak yang buruk pada suatu dan setiap organisme. Perubahan sekuens DNA pada suatu gen dapat diterjemahkan menjadi perubahan sekuens asam amino protein yang dihasilkan. Pada kondisi yang ekstrim, produksi protein dapat berhenti total. Mutasi yang berakibat sangat buruk jarang diturunkan kegenerasi berikutnya, karena mutasi tersebut membunuh organisme itu sebelum organisme dapat bereproduksi. Namun tidak semua mutasi memiliki dampak sedrastis itu. Oleh karena gen yang kita miliki terdapat dalam dua salinan, satu gen yang berfungsi secara normal dapat menutupi gen salinannya yang tidak berfungsi normal.

Minggu, Agustus 30, 2009

Pada tahun 1953, Stanley Miller melakukan percobaan untuk menguji kebenaran teori gurunya Harold Urey. Ia merancang alat percobaan yang diberi nama pesawat uratmosphare. Miller memasukkan uap air, metana, amonia gas hidrogen dan karbon dioksida ke dalam tabung percobaan. Tapung tersebut di panasi. Untuk mengganti energi listrik halilintar ke dalam alat tersebut di lewatkan lecutan listrik bertegangan listrik sekitar 75.000 volt. Semua itu dimaksudkan untuk meniru kondisi permukaan bumi pada waktu terjadi pembentukan zat organik secara spontan.

Karena energi listrik, terjadilah reaksi-reaksi di dalam tabung membentuk zat-zat baru. Zat-zat yang terbentuk didinginkan dan ditampung. Setelah percobaan berlangsung seminggu, hasil reaksi itu dianalisis. Ternyata didalamnya terbentuk zat organik sederhana misalnya asam amino, gula sederhana seperti ribosa, dan adenin. Dengan demikian Miller dapat membuktikan bahwa zat organik dapat terbentuk secara dari anorganik secara spontan.

Setelah itu para ahli berlomba melakukan percobaan serupa. Jika ke dalam gas itu dimasukkan fosfat maka akan terbentuk ATP (adenosin trifosfat), suatu senyawa berenergi tinggi. Ada pula peneliti yang berhasil menyusun polipeptida yang tersususn atas 6 urutan basa. Peneliti lain menghasilkan senyawa-senyawa nukleotida. Peneliti Melvin Calvin dari universitas California menunjukkan bahwa radiasi sinar dapat mengubah metana, amonia, hidrogen dan air menjadi molekul-molekul gula, asam amino, puri dan piramidin. Purin dan piramidin merupakan zat dasar pembentuk DNA, RNA, ATP, dan ADP.


(Struktur Heliks DNA)

Ditemukannya molekul hidup DNA dan RNA memunculkan teori yang menyatakan bahwa zat tersebut merupakan pemicu munculnya kehidupan. DNA atau RNA-kah yang terbentuk pertama kali? Para pakar berpendapat bahwa RNA merupakan molekul hidup yang diduga muncul pertama kali di permukaan bumi, karena RNA lebih sederhana di bandingkan dengan DNA. Selain itu RNA memiliki sifat mudah terbentuk dan mudah terurai serta dapat berfungsi sebagai enzim.


Setelah terbentuk RNA kemudian terbentuk DNA, yang merupakan molekul yang lebih mantap. DNA terbentuk oleh peristiwa transkipsi balik yaitu RNA membentuk DNA yang komplemen. Karena DNA lebih mantap dibandingkan dengan RNA, maka jumlah DNA semakin meningkat. Kini justru DNA yang dapat membentuk RNA komplemennya. RNA dapat membentuk protein sehingga urutan asam amino pada protein yang terbentuk sesuai dengan “perintah” DNA.

Sejak saat itu di dalam sup prabiotik berlangsung “aliran perintah kehidupan” (dogma sentral biologi) yakni dari DNA , RNA , protein. Maka protein di dalam sup prabiotik semakin melimpah.


(Sup Prabiotik-Rekayasa Kontruksi-)

Asal usul kehidupan secara singkat dapat dikatakan bahwa di dalam sup prabiotik terkandung zat-zat organik, DNA, dan RNA. RNA dapat melakukan sintesis protein atas perintah DNA. Dengan demikian di dalam sup prabiotik terdapat protein. Setelah itu terbentuklah sel pertama. Sel tersebut hidup secara heterotrof, yang mendapatkan makanan dari lingkngannya berupa zat-zat organik yang melimpah. Sel tersebut mampu membelah diri sehingga jumlahnya semakin banyak. Sejak saat itu berlangsunglah evolusi biologi.

(Evolusi Manusia)



Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable), 
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini 
silahkan mendownload


Fullerena


(Fransico Redi)
Orang pertama yang melakukan percobaan untuk menguji kebenaran teori Abiogenesis adalah Fransisco Redi (1626-1697) seorang fisikawan Italia. Redi melakukan dua kali percobaan. Pada percobaan pertamanya pada tahun 1668, Redi menggunakan dua kerat daging segar dan dua stoples. Stoples I diisi dengan kerat daging dan ditutup rapat-rapat, sedangkan stoples II diisi dengan kerat daging dan dibiarkan terbuka.


Sesudah beberapa hari, pada stoples I, pada daging tidak ditemukan larva lalat. Pada stoples II daging telah membusuk dan di dalam daging terdapat banyak larva. Redi menyimpulkan bahwa larva bukan berasal dari daging yang membusuk, tetapi berasal dari lalat yang masuk kemudian bertelur pada keratan daging dan telur tersebut menetas menjadi larva.

Hasil percobaan ini mendapat sanggahan dari para ilmuan pengikut teori Abiogenesis. Sanggahan tersebut adalah kehidupan pada stoples I tidak dapat terjadi karena stoples tersebut tertutup sehingga tidak ada kontak dengan udara. Akibatnya tidak ada daya hidup didalamnya.






Untuk menjawab sanggahan tersebut, Redi melakukan percobaan kedua, yaitu meletakkan daging pada stoples yang ditutup dengan kain kasa sehingga masih terjadi hubungan dengan udara, tetapi lalat tidak dapat masuk. Hasil percobaan menunjukkan bahwa keratan daging memnusuk, pada daging ini ditemukan sedikit larva; dan pada kain kasa penutupnya ditemukan lebih banyak larva dari pada yang di daging. Redi berkesimpulan bahwa larva bukan bersal dari daging yang membusuk, tetapi berasal dari lalat yang hinggap di kain kasa dan beberapa telur jatuh pada daging.


Jika kamu membayangkan bahwa percobaan Redi telah menghancurkan teori Abiogenesis, maka kamu salah. Banyak orang yang masih percaya pada teori itu. Gagasan kuno sulit hilang. Bahkan redi sendiri pun masih percaya bahwa generatio spontanea terjadi pada kondisi tertentu.



(FransiscoRedi)



Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable), 
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini 
silahkan mendownload


Fullerena




Lazzaro Spallanzani (1729-1799), Biologiwan Italia juga membantah pernyataan generatio spontanea (makhluk hidup terbentuk secara spontan). Pada tahun 1765 Spallanzanii melakukan percobaan mengunakan air rebusan daging dan dua macam perlakuan pada labu. Labu I diisi air rebusan daging (kaldu), kemudian di panaskan pada suhu 15oC selama beberapa menit, dan dibiarkan terbuka.

Sedangkan labu II diisi air kaldu juga, ditutup rapat dengan sumbat gabus. Kemudian labu dipanaskan hingga mendidih. Selanjutnya kedua macam labu tersebut didinginkan. Setelah kurang lebih satu minggu, hasil percobaannya menunjukkan bahwa pada labu I air kaldu menjadi keruh dan berbau busuk dan banyak mengandung mikroorganisme. Pada labu II air kaldu tetap jernih dan tidak berbau busuk. Akan tetapi jika labu II kemudian di buka dan dibiarkan lebih lama lagi, air kaldu menjadi keruh dan berbau busuk seperti pada hasil labu I.

Kesimpulan Spallanzani adalah pada tabung yang terbuka terdapat kehidupan yang berasal dari mikroorganisme di udara. Pada tabung yang tertutup tidak terdapat kehidupan. Ini membuktikan bahwa kehidupan bukan berasal dari air kaldu.

Hasil percobaan Spallanzani disanggah oleh penganut teori Abiogenesis. Sanggahannya adalah kehidupan pada percobaan Spallanzani tidak terjadi karena daya hidup tidak dapat masuk ke dalam labu. Menurut mereka, untuk terbentuknya mikroorganisme dalam air kaldu dibutuhkan udara.





Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable), 
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini 
silahkan mendownload


Fullerena





Teori Abiogenesis dipelopori oleh Aristoteles (384-322 SM), seorang ahli filsafat Yunani Ia berpendapat bahwa makhluk hidupberasal dari benda mati dan terjadi secara spontan atau terbentuk dengan sendirinya (generatio spontanea).



Teori Abiogenesis terus berkembang, tetapi sejak awal sudah dipertentangkan karena contoh yang diberikan kurang masuk akal. Paham ini menyatakan, antara lain belatung berasal dari daging yang membusuk, kutu beras berasal dari beras, belut berasal dari lumpur, atau cacing bersal dari tanah.

Sekitar tahun1620, Jan Babtise Helmont, seorang ahli kimia Belgia (sekaligus alkemis), memberikan resep untuk membuat tikus:


Jika Anda memasukkan pakaian dalam yang penuh keringat bersama gandum ke dalam stoples bermulut terbuka, maka setelah 21 hari baunya akan berubah dan peragian itu akan terjadi pada pakaian dalam, menembus sekam gandum, dan mengubah gandumnya menjadi tikus. Namun yang luar biasa adalah bahwa tikus dengan jenis kelamin yang berbeda muncul (dari gandum) dan berhasil berkembang biak, dan tikus itu dilahirkan secara normal oleh induknya. Dan yang lebih luar biasa lagi, tikus yang muncul dari gandum bukan tikus kecil, melainkan tikus dewasa.

Teori bahwa makhluk hidup multiselular yang kompleks bisa muncul secara langsung dari benda mati sering kali disebut penciptaan spontan (abiogenesis), meski beberapa pelawak menyebutnya “dari kayu lahirlah katak”. Sebelum kita menganggap lucu sekali gagasan 400 tahun lalu itu, kita harus berhenti sesaat untuk melihat bahwa pikiran kita akan terlihat sama tololnya 400 tahun lagi.






Pada pertengahan abad ke 17, Antoni van Leeuwehoek (1692-1723) yang berkebangsaan Belanda, menemukan alat percobaan baru yang lebih kuat : Mikroskop. Ini adalah anugerah besar. Tidak hanya karena mikroskop sangat berguna untuk pengamatan biologis, tetapi juga mengobarkan kembali teori penciptaan spontan karena “makhluk-makhluk kecil” yang terlihat di mikroskop tampaknya terjadi secara spontan. Melalui mikroskopnya sendiri, ia melihat berbagai mikroorganisme dalam setetes rendaman air jerami (benda mati).



Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable), 
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini 
silahkan mendownload


Fullerena



Walaupun telah bertahan sampai ratusan tahun, tidak semua orang membenarkan teori Abiogenesis, hal itu dikarenakan teori Abiogenesis kurang masuk akal. Para ahli yang ragu terhadap teori Abiogenesis terus mengadakan penelitian untuk memecahkan masalah tentang Asal Usul Kehidupan. Tokoh yang tidak puas terhadap teori Abiogenesis,

Yaitu :
1. Fransisco Redi (Italia, 1626-1697)
2. Lazzaro Spallanzani,(Italia, 1729-1799)
3. Louis Pasteur (Prancis, 1822-1895).







Beredasarkan hasil penelitian dari tokoh-tokoh ini, akhirnya paham Abiogenesis / generation spontanea menjadi pudar karena paham tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

a) Percobaan Francesco Redi ( 1626-1697)
Untuk menjawab keragu-raguannya terhadap paham abiogenesis, Francesco Redi mengadakan percobaan. Pada percobaannya Redi menggunakan bahan tiga kerat daging dan tiga toples. Percobaan Redi selengkapnya adalah sebagai berikut :

· Stoples I : diisi dengan sekerat daging, ditutup rapat-rapat.

· Stoples II :diisi dengan sekerat daging, dan dibiarkan tetap terbuka.

· Stoples III : disi dengan sekerat daging, dibiarkan tetap terbuka.

Selanjutnya ketiga stoples tersebut diletakkan pada tempat yang aman. Setelah beberapa hari, keadaan daging dalam ketiga stoples tersebut diamati.

Danhasilnya sebagai berikut:

· Stoples I : daging tidak busuk dan pada daging ini tidak ditemukan jentik / larva atau belatung lalat.

· Stoples II : daging tampak membusuk dan didalamnya ditemukan banyak larva atau belatung lalat.

Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Francesco redi menyimpulkan bahwa larva atau belatung yang terdapat dalam daging busuk di stoples II dan III bukan terbentuk dari daging yang membusuk, tetapi berasal dari telur lalat yang ditinggal pada daging ini ketika lalat tersebut hinggap disitu. Hal ini akan lebih jelas lagi, apabila melihat keadaan pada stoples II, yang tertutup kain kasa. Pada kain kasa penutupnya ditemukan lebih banyak belatung, tetapi pada dagingnya yang membusuk belatung relative sedikit.

B) percobaan Lazzaro Spallanzani ( 1729-1799)

Seperti halnya Francesco Redi, Spallanzani juga menyangsikan kebenaran paham abiogeensis. Oleh karena itu, dia mengadakan percobaan yang pada prinsipnya sama dengan percobaan Francesco Redi, tetapi langkah percobaan Spallanzani lebih sempurna.

Sebagai bahan percobaannya, Spallanzani menggunakan air kaldu atau air rebusan daging dan dua buah labu.
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Lazzaro Spallanzani menyimpulkan bahwa mikroba yang ada didalam kaldu tersebut bukan berasal dari air kaldu (benda mati), tetapi berasal dari kehidupan diudara. Jadi, adanya pembusukan karena telah terjadi kontaminasi mikroba darimudara ke dalam air kaldu tersebut.
Pendukung paham Abiogenesis menyatakan keberatan terhadap hasil eksperimen Lazzaro Spallanzani tersebut. M,enurut mereka untuk terbentuknya mikroba (makhluk hidup) dalam air kaldu diperlukan udara. Dengan pengaruh udara tersebut terjadilah generation spontanea.

c) Percobaan Louis Pasteur (1822-1895)

Dalam menjawab keraguannya terhadap paham abiogenesis. Pasteur melaksanakan percobaan untuk menyempurnakan percobaan Lazzaro Spallanzani. Dalam percobaanya, Pasteur menggunakan bahan air kaldu dengan alat labu.

Melaui pemanasan terhadap perangkat percobaanya, seluruh mikroorganisme yang terdapat dalam air kaldu akan mati. Disamping itu, akibat lain dari pemanasan adalah terbentuknya uap air pada pipa kaca berbentuk leher angsa. Apabila perangkat percobaan tersebut didinginkan, maka air pada pipa akan mengembun dan menutup lubang pipa tepat pada bagian yang berbentuk leher. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya mikroorganisme yang bergentayangan diudara untuk masuk kedalam labu. Inilah yang menyebabkan tetap jernihnya air kaldu pada labu tadi.

Pada saat sebelum pemanasan, udara bebas tetap dapat berhubungan dengan ruangan dalam labu. Mikroorganisme yang masuk bersama udara akan mati pada saat pemanasan air kaldu.
Setelah labu dimiringkan hingga air kaldu sampai kepern\mukan pipa, air kaldu itu akan bersentuhan dengan udara bebas. Disini terjadilah kontaminasi mikroorganisme. Ketika labu dikembalikan keposisi semula (tegak), mikroorganisme tadi ikut terbawa masuk. Sehingga, setelah labu dibiarkan beberapa beberapa waktu air kaldu menjadi akeruh, karena adanya pembusukan oleh mikrooranisme tersebut. Dengan demikian terbuktilah ketidak benaran paham Abiogenesis atau generation spontanea, yangmenyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang terjadi secara spontan.

Berdasarkan hasil penelitian tokoh-tokoh tersebut khususnya hasil dari percobaan Louis Pasteur, akhirnya pendapat teori Abiogenesis menjadi pudar karena tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dari hasil percobaan-percobaan tokoh di atas maka diperoleh slogan:

1) omne vivum ex ovo, yaitu setiap makhluk hidup berasal dari telur

2) omne ovum ex vivo, yang berarti setiap telur berasal dari makhluk hidup

3) omne vivum ex vivo, yaitu setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya. Teori ini kemudian di kenal sebagai teori Biogenesis.







Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload



Fullerena

Anaxagoras dari Yunani, yang hidup dari tahun 500 sampai 428 sebelum Masehi, berfilosofi tentang “benih kehidupan”, yang menurutnya terdapat pada semua organisme. Filosofinya telah ditafsirkan sebagai awal mula gagasan panspermia, yaitu konsep bahwa kehidupan di permukaan planet berasal dari kehidupan suatu tempat di luar angkasa yang dikenal dengan teori Kozmozoan.

Pada tahun 1870, seorang fisikawan skotlandia, William Thomson, Lord Kelvin, yang menemukan adanya karbon di dalam meteorit, mengatakan gagasannya:


"Ketika dua massa yang besar bertabrakan di luar angkasa, tentu saja setiap bagian terbesarnya hancur lebur, tetapi tanpaknya sudah pasti bahwa pada banyak kasus ada puing-puing besar yang terlempar ke segala arah. Banyak dari puing itu yang mungkin hanya mengalami sedikit goncangan dibanding goncangan pada sebuah pecahan batu karena pergeseran tanah atau oleh ledakan mesiu. Jika bumi dalam keadaan seperti saat ini, yang diselubungi oleh tumbuh-tumbuhan, bertabrakan dengan benda lain yang sebanding ukurannya, maka banyak pecahan besar kecil Bumi yang membawa benih tumbuh-tumbuhan dan binatang hidup niscaya akan tersebar ke ruang angkasa. Oleh sebab itu, dan karena kita semua sangat percaya bahwa pada saat ini maupun sebelumnya sudah ada banyak dunia kehidupan selain kehidupan kita, maka kita harus menganggap kemungkinan terbesar adalah terdapat banyak sekali batu meteor yang membawa benih sedang bergerak di luar angkasa. Jika saat ini tidak ada kehidupan di muka Bumi, yang tanpa alasan yang jelas, kita sebut sebagai sebab alamiah menyebabkan Bumi ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan."


Fisikawan Jerman, Hermann von Helmholtz yang bekerja di waktu yang sama dan mendukung gagasan ini, berkata. “Bagi saya, ini tampak sebagai kerja cara sains yang sangat tepat, jika semua usaha kita gagal untuk menghasilkan organisme dari benda tak hidup, untuk membangkitkan pertanyaan apakah kehidupan telah diciptakan, apakah hidup tak setua materi itu sendiri, dan apakah benih tidak dibawa dari satu planet ke planet lain dan tumbuh disuatu tempat subur dimanapun jatuhnya.”


Walaupun gagasan ini sangat menarik dan dinyatakan oleh ilmuan ternama pada masa itu, namun gagasan itu bukanlah teori yang bisa dibuat perkiraan dan diuji dengan percobaan, sehingga tidak mengalami kemajuan, paling tidak dalam tingkat metode ilmiah.

Pada tahun 1907, Svante Arrenius, peraih Hadiah Nobel dari Swedia untuk penelitiannya tentang kimia ion, menulis sebuah buku yang populer, World in The Making (Penciptaan Dunia). Arrhenius menyebutkan bahwa kehidupan dimulai di tempat lain, melayang-layang di atmosfer planet lain, dan bermigrasi melalui ruang angkasa seperti spora dibawa oleh tekanan radiasi bintang apapun yang menjadi pusat sistem planet itu.



Karena dipandang sebagai suatu teori, maka gagasan ini memperkirakan bahwa spora bisa bertahan dari radiasi ultraviolet Matahari sampai tiba di bumi. Sejumlah peneliti menguji spora dibawah kondisi yang mirip dengan luar angkasa dan ternyata spora itu tidak bisa bertahan hidup. Hasilnya, teori Arrhenius tenggelam. Kecuali sebagai inspirasi kisah-kisah fiksi ilmiah.


Salah satu kesulitan terbesar panspermia adalah bahwa gagasan itu tidak sungguh-sungguh menjawab pertanyaan bagaimana kehidupan yang pertama muncul. Ia hanya menggeser masalahnya menuju suatu tempat lain yang lebih sulit dijangkau.







Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload



Fullerena

Selasa, Juli 07, 2009

Johannes Gregor Mendel, beliau adalah seorang biarawan di Brunn, Austria (kini dikenal dengan Brno, republik Ceska). Sehari-hari Mendell merawat Kacang Ercis dan menelitinnya. Semua jasanya dalam genetika telah mendongkrak ilmu SAINS, dan tidak berlebihan kiranya untuk menyebut Mendel bapak Genetika Modern. Pada saat Mendell mengajukan hasil penelitiaan kacang ercisnya kepada Komunitas studi sejarah Alam Brunn, banyak para ilmuan yang menganggapnya itu hanya rekayasa saja, penemuannya tidak relevan karena hasilnya tampak janggal dan tidak sesuai dengan ide-ide yang telah ada saat itu tentang pewarisan.

Mendell sesungguhnya jauh lebih maju dari pada masanya. Nilai penting hasil penelitiaannya, baru disadari 40 tahun kemudian, tentunya mendel yang sudah meninggal tidak dapat menikmati secara langsung hasil usahanya tersebut. Selama 40 tahun sejak publikasi mendel mengenai kacang Ercis, dunia genetika telah melalui sejumlah perbahan radikal, dari Charles Darwin yang mengajukan teori Pangenesis. Teori darwin yang menyatakan organ tubuh menghasilkan semacam partikel, yang dinamakannya gemula yang merupakan bentuk mini dari organ. Asumsinya adalah bahwa gemula tersebut dialirkan darah menuju organ reproduksi, setelah sel sperma bersatu dengan sel telur, gemula dari tiap orang tua akan bercampur. Namun teori ini berhasil ditumbangkan oleh Sepupu darwin sendiri, yakni Francis Galton.

Menyusul kemudian teori pewarisan menuruk Lamarck, yang menjadikan jerpah sebagai objek utamanya. Teorinya menyatakan bahwa karakteristik yang diperoleh selama masa hidup sesorang dapat diwariskan. Menurut Lamarck, apabila anda berolahraga sehingga menjadi kuat, maka anak-anak anda akan mewarisi kekuatan anda. Tentu saja teori ini tidaklah benar, dan hanyalah kisah fiksi sains semata.

Lalu tidak ketinggalan, Weisman turut campur tangan yang teorinya merupakan pukulan keras bagi penganut setia Lamarck. Weisman yang dikenal dengan teori plasma nutfah membantu memfokuskan pemikiran dunia ilmiah dan mengarahkan ilmu genetika menuju abad berikutnya. Teori yang radikal menyatakan bahwa Plasma Nutfah (sel-sel gamet) berkembang secara independen dari bagian tubuh lain, selain itu resep genetik diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui gamet dan tidak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada bagian tubuh lain (sel somatik). Dengan kata lain, Tubuh hanyalah kendaraan bagi transmisi atau perpindahan lini nutfah.

Ketika disadari teori-teori radikal tersebut tidak berbeda dengan hukum pewarisan mendel, tiba saatnya untuk Almarhum mendel menjadi sorotan. Para ilmuan lainnya terus meneliti dan akhirnya meneliti DNA.

DNA yang telah kita ketahui strukturnya, ternyata memilki sejarah tersendiri. Berawal dari Penemuan Difraksi pada Sinar X, Dua ilmuan Jenius yang berbeda bidang, yakni James watson dan Francis Crick berkolaborasi untuk memecahkan bentuk tiga dimensi dari struktur DNA itu sendiri. Menginterpretasikan struktur tiga dimensi suatu molekul dari beberapa titik yang tersebar pada sebuah film sinar X, tidaklah mudah. Crick pun yang seorang ahli fisika berusia 35 tahun, mulai mendalami matematika rumit untuk menginterpretasikan pola-pola difraksi dari sinar DNA.

Kedua ilmuan tersebut mengabiskan banyak waktu bersama mambangun model-model tiga dimensi dari DNA. Dengan mermodalkan pengetahuan yang luas, Potongan-potongan kuningan, kawat, dan baut. Hingga pada suatu hari di tahun 1953, Watson dan Crick mengalami moment kemenangan, Heliks ganda DNA pun diumumkan kepada Dunia.

Semua kerja keras dari para ilmuan Genetika membuahkan hasil yang sangat manis. Keberhasilannya untuk menkloning Domba dolly, nampaknya juga memilki alasan yang kuat untuk berhasil dalm mengkloning manusia. Secara ilmiah, mengkloning domba ke mengkloning manusia, adalah satu langkah yang kecil, namun merupakan satu langkah yang besar secara etika bagi umat manusia.

Genetika memiliki peranan penting dalam kehidupan, dari makanan, bidang kedokteran, mencegah penyakit menurun, hingga Human project. Kontroversi tidak akan pernah lepas dari genetika, karena dengan ilmu genetika, seolah-olah Manusia dapat menjadi tuhan, karena sekarang bayi yang mungil dan lucu sudah dapat dibuat dalam tabung reaksi melalui metode fertilisasi in vitro. Bayi tabung pertama dilahirkan pada tahun 1978 di Inggris. Dan sejak saat itu, ribuan bayi telah dilahitkan melalui metode tersebut.

Tentu saja, hal ini sangat beretentangan dengan moral dan etika, para ilmuan telah dianggap melanggar hukum alam. Tekhnik fertilisasi in Vitro atau IVF atau bayi tabung dianggap tidak etis oleh sebagian orang, bahkan dilarang diberbagai negara.

Namun tak lama lagi akan tiba zaman ketika nasib ditentukan di Pasar bebas. Seiring dengan tesedianya pemeriksaan genetik baru, hantu Eugenika akan muncul kembali. Genetika modern tidak hanya memungkinkan kita untuk melihat masa depan, tapi juga memberikan sebuah cara untuk mengubah masa depan.

Diambil dari berbagai sumber tentang buku Genetika.


Yuk Taaruf









Nur Abdillah Siddiq
Mahasiswa Jurusan Fisika ITS, sedang menggeluti Fiber Optik dan dunia pengembangan diri. Berusaha mengabdi dan memberikan kontribusi nyata pada agama Islam, Negara Indonesia, dan Orang Tua Tercinta (H. Fajar Rahman dan Hj. Sri Tumiasih).

Blog ini adalah website pribadi Nur Abdillah Siddiq. Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Popular Posts

Yuk Baca !

Yuk Baca !