Tampilkan postingan dengan label Dunia Tumbuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Tumbuhan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, April 09, 2011



Siapa bilang serat alam adalah bahan yang sepele ? Jika mendengar atau melihat tentang serat alam kebanyakan dari kita melihatnya sebagai bahan yang sepele atau menganggapnya sebagai sampah. Tapi ternyata dalam bidang teknologi material, bahan-bahan serat alam merupakan kandidat sebagai bahan penguat untuk dapat menghasilkan bahan komposit yang ringan, kuat, ramah lingkungan serta ekonomis. Alam telah banyak menyediakan kebutuhan manusia mulai dari makanan sampai bahan bangunan. Salah satunya adalah bahan-bahan serat alam.

(Produk Serat Nanas dikombinasikan dengan Sutera)
Serat nanas atau tanaman kayu digunakan sebagai bahan sandang dan serat alam yang dapat digunakan untuk membuat tambang. Seiring dengan perkembangan teknologi bahan, peran serat-serat alam mulai tergantikan oleh jenis bahan serat sintetik seperti serat gelas atau serat karbon. Seiring dengan inovasi yang dilakukan dalam bidang material, serat alam kembali “dilirik” oleh peneliti untuk dijadikan sebagai bahan penguat komposit. Elastis, kuat, melimpah, ramah lingkungan dan biaya produksi yang lebih rendah merupakan kelebihan yang dimiliki oleh serat alam. Selain itu juga terdapat kekurangan dari jenis serat ini terutama kekuatan yang tidak selalu merata. Jenis-jenis serat alam seperti misalnya ; Sisal , Flex, Hemp, Jute, Rami, Kelapa, mulai digunakan sebagai bahan penguat untuk komposit polimer. Bahan komposit merupakan hasil penggabungan dari dua jenis atau lebih bahan yang memberikan sifat berbeda dari pada bahan-bahan tersebut jika dalam keadaan terpisah. Filosofinya adalah efek kombinasi dari bahan-bahan penyusunnya.

Umumnya dalam komposit terdapat bahan yang disebut sebagai “matriks” dan bahan “penguat”. Bahan matriks umumnya dapat berupa logam, polimer, keramik, karbon. Matriks dalam komposit berfungsi untuk mendistribusikan beban kedalam seluruh material penguat komposit. Sifat matriks biasanya “ulet” (ductile). Bahan penguat dalam komposit berperan untuk menahan beban yang diterima oleh material komposit. Sifat bahan penguat biasanya kaku dan tangguh. Bahan penguat yang umum digunakan selama ini adalah serat karbon, serat gelas, keramik. Serat alam sebagai jenis serat yang memiliki kelebihan-kelebihan mulai diaplikasikan sebagai bahan penguat dalam komposit polimer.

Beberapa waktu lalu Sumenep sempat kedatangan investor dari Jepang, yang ternyata melihat potensi lahan di beberapa areal perkebunan dan pertanian di Sumenep, yang cocok membudidaya serat nanas. Sebab, ternyata tanaman yang banyak ditemukan di daerah Lenteng dan Ganding itu, memiliki nilai jual yang cukup ekonomis, dan bisa menjadi komoditi ekspor ke luar negeri, untuk produksi teknologi. Menurut Kepala Bidang Perkebunan Dinas Kehutanan Perkebunan Kabupaten Sumenep, Ir. Bambang Haryanto, untuk tanaman serat nanas banyak ditemukan di Desa Ellak Daya Kecamatan Lenteng dan Kecamatan Ganding. “Dari sekitar 446,43 hektar lahan tanaman serat nanas, sekitar 124,28 hektar di Kecamatan Lenteng, dan 102,36 hektar di Kecamatan Ganding. Sedangkan sisanya sekitar 10-20 hektar, tersebar di 18 Kecamatan,”ujar Bambang. Dijelaskan Bambang, tanaman yang sempat terlupakan dan hampir tidak pernah mendapat sentuhan teknologi itu, kali ini ternyata Investor Jepang membawa hasil panen serat nanas dari Sumenep ke Balai Penelitian Tanaman Serat (BALITAS) di Jakarta, dan selanjutnya mereka akan membawa sample tersebut ke negaranya untuk diuji. Bambang berharap, apabila tanaman serat nanas dari Sumenep nantinya cocok masuk ke Jepang, maka budidaya tanaman ini akan lebih ditingkatkan. Sebab, ternyata tanaman ini juga cocok di daerah dataran rendah di Kecamatan Pasongsongan dan Guluk-guluk. Dan tanaman ini tidak jauh beda dengan tanaman tembakau. ( Ren, Esha ). Manfaat dari kegiatan pengembangan dan penerapan material komposit berbasis bahan serat alam adalah:

1. Untuk pengembangan potensi pemanfaatan serat alam yang tersedia berlimpah di Indonesia sebagai hasl aktifitas pertanian, melalui penelitian karakterisasi material dan teknologi pemrosesan produk komposit ramah lingkungan yang bernilai ekonomis.

2. Dapat memenuhi kebutuhan industri yang berkembang di masyarakat, melihat ketersediaan di alam yang cukup besar dan biaya bahan yang jauh lebih murah. Produk yang dihasilkan dapat lebh ringan dan membutuhkan konsumsi energi yang rendagh, sehingga dapat menurunkan biaya produksi selain upaya meningkatkan nilai tambah produk lokal.

3. Peningkatan kemampuan rancang bangun dan manufaktur material komposit berbasis bahan serat alam untuk menunjang pembangunan industri dan kemandirian bangsa, khususnya dalam penguasaan teknologi material.

Di Sumenep pemanfaatan serat nanas masih minim dibanding daerah lain, akan tetapi tanaman yang banyak ditemukan di daerah Lenteng dan Ganding itu, memiliki nilai jual yang cukup ekonomis, dan bisa menjadi komoditi ekspor ke luar negeri, untuk produksi teknologi. Umumnya di Sumenep sebagian besar memproduksi tali dari serat nanas. Oleh karena itu, penulis menginginkan Sumenep menjadi pemproduksi yang lebih maju dan lebih mempunyai kualitas yang unggul dari sebelumnya. Dalam hal ini penulis telah mendesign sendiri suatu produk baru dan design produk ini akan penulis ajukan kepada pihak produksi serat nanas di Sumenep untuk diproduksi dan disebarkan ke beberapa daerah. Inilah produk design kami yang akan penulis tawarkan kepada pihak produksi.

Produk 1


Menjadi

Produk 2

Menjadi


(Gambar 1) adalah design sebuah produk berupa sandal berserat daun nanas. Sandal ini didesign sedemikian rupa untuk menarik minat konsumen terhadap produk ini. Seperti yang kita ketahui jarang kita temukan produk sandal seperti ini. Produk ini secara tidak langsung mewakili dunia tradisional dan dunia modern dengan berbasis alamiah. Dengan adanya produk ini, serat daun nanas yang awalnya hanya digunakan sebagai tali sekarang dapat digunakan sebagai aksesoris yang tidak kalah menariknya dengan aksesoris-aksesoris yang mahal. (Gambar 2) adalah design tempat barang yang kecil dan unik. Produk ini juga berserat daun nanas yang telah didesign untuk para remaja, anak-anak, maupun dewasa.

Cara pembuatan produk olahan serat nanas sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan hanya diperlukan ketelatenan dan keterampilan yang. Serat nanas diperoleh dengan mengerik daun nanas secara manual menggunakan piring atau sendok. Benang dari serat nanas (sebagai pakan) akan ditenun bersama dengan lungsi (bahan dasar membuat kain).



Dengan grafik di atas kita dapat lebih memahami bahwa pengolahan serat nanas ternyata tidak sesulit yang seperti yang kita bayangkan hanya diperlukan ketelatenan yang sangat tinggi sehingga dengan begitu kita dapat berfikir positif bahwa nantinya akan menghasilkan produk yang kita inginkan. Dengan begitu kita dapat mengetahui lebih dalam bahwa tidak hanya buahnya saja yang dapat kita manfaatkan bahkan daun nanas yang nantinya menghasilkan serat dapat lebih berguna dan menghasilkan suatu produk unik yang dapat kita konsumsi.

Kita jangan menyepelekan bagian dari apapun karena semua mempunyai fungsi – fungsi tersendiri. Kita bisa lihat produk (lampiran 1) adalah produk berbahan dasar yaitu serat nanas, tidak menyangka bahwa produk dibawah ini berasal dari daun nanas yang dikerik, diolah, dan dirancang oleh pihak produksi sehingga menghasilkan produk yang unik dan menarik minat para konsumen. Mukena, busana, tas, dan selendang Muslim untuk wanita ini dengan bahan kombinasi yang bagus, yang mana atasannya dengan bahan yang halu, dingin serta untuk bawahannya dengan bahan serat nanas, mukena ini dilengkapi dengan Bordir halus dengan motif Bunga. Untuk Mukena ini terdiri dari 11 macam warna, dengan serat nanas yang berbeda-beda pula.




Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload



Fullerena


Selasa, April 05, 2011




Suatu produk akan sangat diminati oleh masyarakat luas apabila produk tersebut memiliki kualitas yang unggul dibanding produk lain. Seperti yang kita ketahui, masyarakat zaman sekarang membutuhkan suatu produk yang sangat efisien dan inovatif. Oleh karena itu, penulis tidak sekedar memperkenalkan suatu produk tanpa kelebihan – kelebihan lain. Di sini produk yang dihasilkan dari olahan serat nanas memiliki beberapa keunggulan dan keistimewaan, di antaranya :

1. Produk yang dihasilkan dari olahan serat nanas merupakan produk yang sebenarnya berbahan dasar dari alam, yaitu dari daun nanas. Maka dari itu, produk ini secara tidak langsung dapat diproduksi secara berkelanjutan karena bahan dasar yang dipergunakan cukup mudah untuk ditemukan. Selain itu, dengan adanya pemanfaatan serat daun nanas maka sebenarnya kita telah ikut serta dalam upaya menjaga kelestarian alam. Dalam hal ini, daun nanas yang cenderung hanya dibuang ketika buah nanas telah matang, daun nanas yang selama ini hanya dianggap sebagai sampah atau barang yangh tidak berguna sebenarnya dapat mendatangkan nilai ekonomis bagi masyarakat ketika mereka bisa memanfaatkannya secara efisien, salah satunya adalah dengan mengolahnya menjadi suatu produk.

2. Produk yang dihasilkan dari olahan serat nanas sangat beragam salah satu diantaranya adalah pakain sebagai kebutuhan sandang. Menurut survei yang kami lakukan, ternyata para konsumen yang memakai pakaian olahan serat nanas merasa nyaman dan terasa dingin ketika dipakai juga produk tersebut telah mengikuti model zaman sekarang serta pakaian tersebut tidak cepat sobek dan tetap awet, kata salah seorang remaja yang kami wawancarai Nura Irma hayati, di Perum Bumi Sumekar, Kolor.

3. Selain itu, keunggulan dan keistimewaan produk olahan serat nanas dapat mudah dijadikan produk apa saja yang sekarang ini sangat dibutuhkan oleh para remaja-remaja yang menginginkan barang atau suatu produk yang sangat unik dan inovatif. Oleh karena itu, perancang atau pendisain betul-betul mendisain produk yang sesuai selera para remaja zaman sekarang guna tetap menjaga minat para konsumen untuk menggunakan produk olahan serat nanas.



Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload



Fullerena





Nanas merupakan buah yang serbaguna, dari buah hingga daunnya dapat dimanfaatkan. Buahnya dapat dikonsumsi dalam bentuk segar, dapat dipakai sebagai bahan pengempuk daging, sebagai pembersih barang logam, sedangkan daunnya dapat dijadikan benang, kain, jaring, dan tali. Limbah buah nanas dapat dijadikan makanan, seperti nata de pina, juga dapat dijadikan pakan ternak dan kompos. Buah nanas terutama dapat diolah menjadi berbagai macam produk, antara lain : selai/jam, manisan buah, saos, keripik, dodol, sirup, buah dalam sirup, dan jelly.

Dengan mengolahnya menjadi berbagai macam produk olahan maka akan meningkatkan daya simpan dari resiko busuk, serta jangkauan pemasarannya lebih luas. Disamping itu juga dapat meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani.

Teknologi pengolahan yang diintroduksikan tidak harus rumit tetapi dapat yang sederhana dan mudah diterapkan serta digunakan oleh Berikut ini adalah beberapa alternatif produk olahan nanas.

a. Selai Nanas, untuk membuat selai harus dipilih nanas yang cukup tua. Nanas yang masih muda terlalu asam sehingga akan menurunkan mutu selai. Nanas yang terlalu masak jangan digunakan karena kandungan airnya tinggi dan warnanya kurang menarik. Bahan : buah nanas, gula, pectin, dan asam sitrat

b. Manisan Buah, buah-buahan dapat diolah menjadi manisan, termasuk pula buah nanas. Bahan : buah nanas, gula, sodium meta bisulfit/natrium benzoate.

c. Dodol Nanas, dodol merupakan salah satu produksi olahan hasil pertanian jenis pangan semi basah yang terdiri dari campuran tepung dan gula yang dikeringkan. Bahan utama dodol bisa bermacam buah-buahan termasuk nanas.

d. Nata de pina, nata merupakan selulosa yang dibentuk oleh bakteri Acetobacter xylinum, berkalori rendah, dan memiliki kadar air + 98 %. Selain daging buah, limbah nanas seperti kulit buah, mata, dan empulur juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan nata de pina.

e. Serat Nanas, kain dari serat nanas sudah mulai dikenal di masyarakat. Serat nanas diperoleh dengan mengerik daun nanas secara manual menggunakan piring atau sendok. Benang dari serat nanas (sebagai pakan) akan ditenun bersama dengan lungsi (bahan dasar membuat kain).

Industri pengolahan buah nanas menjadi prioritas untuk kategori tanaman yang akan dikembangkan karena memiliki potensi ekspor. Luas panen nanas di Indonesia 25,24% dari sasaran panen buah-buahan nasional. Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah penghasil nenas yang potensial di Indonesia serta mempunyai prospek pengembangan yang cukup baik. Saat ini, Sumatera Selatan merupakan salah satu provinsi yang memiliki areal penanaman nenas terluas di Indonesia. Pada masa mendatang sangat memungkinkan bagi provinsi lain untuk memprioritaskan pengembangan nanas dalam skala yang lebih luas dari tahun-tahun sebelumnya (Zainab dan Fahmi, 2001).



Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload



Fullerena







Selama ini pengolahan buah nenas menjadi prioritas, sedangkan bagian tanaman lainnya menjadi limbah seperti daun nenas dan kulit buah nenas. Oleh karena itu, dilakukan penelitian tentang pemanfaatan daun nenas yang memiliki kandungan serat cukup tinggi. Nah, serat nanas ini dapat diolah menjadi benang yang merupakan bahan baku dalam industri tekstil. Berbagai jenis produk yang menggunakan bahan baku serat alam akhir-akhir ini makin digemari, termasuk kain dari serat daun nanas. Secara mikroskopi penampang membujur serat nanas dilihat dengan scanning elektron mikroskop, permukaannya tediri atas fibril–fibril dan dengan sinar X menunjukkan bahwa serat nanas mempunyai derajat kristalinitas yang tinggi dengan sudut spiral kira-kira 15o. Pada daerah kristalin molekul-molekulnya tersusun lebih kuat/kencang dengan ikatan hidrogen dan gaya van der waals, sehingga serat nanas mempunyai kekuatan yang relatif tinggi. Kekakuan lentur atau Flexural rigidity dan torsional rigidity serat relatif lebih tinggi dibanding kapas. Hal ini menyebabkan serat mempunyai ketahanan yang besar untuk digintir (twist), sehingga serat cenderung tidak segera tergintir pada saat proses penggintiran selesai. Oleh karena itu serat cenderung kaku dan agak sulit untuk mendapatkan serat yang kompak seperti yang dikehendaki. Sifat porous dan menggelembung (swelling) pada serat nanas menunjukkan adanya sifat daya absorbsi lembab dan kemampuan untuk dicelup.

Manfaat dari kegiatan pengembangan dan penerapan material komposit berbasis bahan serat alam adalah:

1. Untuk pengembangan potensi pemanfaatan serat alam yang tersedia berlimpah di Indonesia sebagai hasil aktifitas pertanian, melalui penelitian karakterisasi material dan teknologi pemrosesan produk komposit ramah lingkungan yang bernilai ekonomis.

2. Dapat memenuhi kebutuhan industri yang berkembang di masyarakat, melihat ketersediaan di alam yang cukup besar dan biaya bahan yang jauh lebih murah. Produk yang dihasilkan dapat lebih ringan dan membutuhkan konsumsi energi yang rendah, sehingga dapat menurunkan biaya produksi selain upaya meningkatkan nilai tambah produk lokal.

3. Peningkatan kemampuan rancang bangun dan manufaktur material komposit berbasis bahan serat alam untuk menunjang pembangunan industri dan kemandirian bangsa, khususnya dalam penguasaan teknologi material.

Kain dari serat nanas sudah mulai dikenal di masyarakat. Serat nanas diperoleh dengan mengerik daun nanas secara manual menggunakan piring atau sendok satu arah. Setelah itu, keluar seratnya yang menyerupai benang. Kemudian dikeringkan sampai membentuk benang yang siap disambung satu persatu. Lalu, sambungan benang tadi digulung pada tempat benang (burtal). Nah, benang yang ada di burtal itu siap untuk ditenun sebagai bahan sandang.



Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload



Fullerena





Menurut kamus bahasa indonesia, serat adalah suatu material yang perbandingan panjang dan lebarnya sangat besar dan molekul penyusunnya terorientasi terutama ke arah panjang.

Serat kapas misalnya memiliki perbandingan panjang:lebar dari mulai 500 : 1 sampai dengan 1000 : 1. Sedangkan serat tekstil adalah serat-serat yang digunakan untuk aplikasi tekstil. Contohnya serat kapas yang biasa dipakai untuk pakaian, serat karbon untuk aplikasi tekstil komposit, dsb. Di dalam berbagai literatur-literatur dan perdagangan tekstil biasanya serat tekstil cukup ditulis sebagai serat saja dan ia mengacu pada pengertian serat tekstil. Dr.Evelin Jhne (2008) menjelaskan, Serat pada umumnya dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian, yaitu :

1. Serat alam, serat alam terbagi dalam 3 kategori besar, serat yang berasal dari tumbuhan, serat yang berasal dari hewan dan materi dan anorganik. Kapas, rami, kapuk adalah beberapa sontoh serat alam yang berasal dari tumbuhan, sedangkan wol dan sutera serat yang berasal dari hewan, sementara serat asbes adalah contoh serat yang berasal dari material anorganik.

2. Serat buatan, serat buatan terbagi menjadi 3 bagian, yaitu yang bahan bakunya berasal dari alam tetapi kemudian mengalami proses polimerisasi lanjutan seperti ; viskosa, asetat, kuproamonium, dsb. Ada juga yang bahan bakunya berasal dari hasil sintesis polimerisasi misalnya; polyester, nilon, poliuretan, polivinil, dsb. Sedangkan yang ketiga yaitu yang berbahan dasar anorganik misalnya serat logam, gelas, dsb.

Pada dasarnya semua material serat merupakan polimer. Supaya dapat dibuat menjadi serat, polimer harus memenuhi syarat sebagai berikut: Polimer harus linear dan mempunyai berat molekul lebih dari 10.000, tetapi pada saat yang bersamaan juga tidak boleh terlalu besar sebab nantinya akan sulit untuk dilelehkan atau dilarutkan. Molekul harus simetris dan mempunyai gugus-gugus samping yang besar yang dapat mencegah terjadinya susunan yang rapat. Polimer harus memberikan kemungkinan untuk mendapatkan derajat orientasi yang tinggi, sehingga sewaktu terjadi proses penarikan pada serat akan menambah kekuatan. Polimer harus mempunyai gugus polar yang letaknya teratur untuk mendapatkan kohesi antar molekul yang kuat dan titik leleh yang tinggi. Khusus untuk keperluan tekstil sandang, serat harus mudah diberi zat warna. Apabila diberi zat warna maka sifat fisika seratnya tidak boleh mengalami perubahan yang mencolok dan warna bahan jadinya harus tahan terhadap pencucian, keringat dan cahaya.

Serat menurut arah panjangnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu serat-serat pendek atau biasa disebut stapel dan filamen. Filamen adalah serat yang sangat panjang dan langsung dijadikan benang, sehingga istilah filamen itu sering mengacu pada pengertian jenis benang. Berbeda halnya dengan filamen, serat stapel harus terlebih dahulu melalui proses pemintalan sebelum dijadikan benang. Manfaat pengembangan dan penerapan material komposit berbasis bahan serat alam adalah:

1. Untuk pengembangan potensi pemanfaatan serat alam yang tersedia berlimpah di Indonesia sebagai hasil aktivitas pertanian melalui karakterisasi material dan teknologi pemprosesan produk komposit ramah lingkungan yang bernilai ekonomis.

2. Dapat memenuhi kebutuhan industri yang berkembang di masyarakat. Melihat ketersedisan di alam yang cukup besar dan biaya bahan baku yang lebih murah, produk yang dihasilkan dapat lebih ringan dan membutuhkan konsumsi energi yang rendah, sehingga dapat menentukan biaya produksi selain upaya meningkatkan upaya produk lokal.
3. Peningkatan kemampuan rancang bangun dan manufacture material komposit berbasis bahan serat alam untuk menunjang pembangunan industri dan kemandirian bangsa.





Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus (L) Merr. Tanaman ini cukup mudah dibudidayakan karena dapat tumbuh pada keadaan iklim basah maupun kering. Iklim Indonesia sangat cocok untuk membudidayakan tanaman nanas (Pracaya, 1982). Beberapa tahun terakhir, luas areal tanaman nanas menempati urutan pertama dari tiga belas jenis buah-buahan komersial yang dibudidayakan di Indonesia (Badan Agribisnis Departemen Pertanian, 1999).

Tanaman nanas (Ananas cosmosus) termasuk famili Bromeliaceae merupakan tumbuhan tropis dan subtropis yang banyak terdapat di Filipina, Brasil, Hawai, India dan Indonesia. Di Indonesia tanaman tersebut terdapat antara lain di Subang, Majalengka, Purwakarta, Purbalingga, Bengkulu, Lampung dan Palembang, yang merupakan salah satu sumber daya alam yang cukup berpotensi. Menurut data yang diperoleh perkebunan nanas yang dimiliki kabupaten DT II Muara Enim Palembang seluas 26.345 Ha, Subang 4000 Ha (perkebunan nanas dan abaka), Lampung utara 32.000 Ha dan Lampung Selatan 20.000 Ha. Tanaman nanas akan dibongkar setelah dua atau tiga kali panen untuk diganti tanaman baru, oleh karena itu limbah daun nanas terus berkesinambungan sehingga cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai produk yang dapat memberikan nilai tambah. Namun hingga saat ini tanaman nanas baru buahnya saja yang dimanfaatkan, sedangkan daunnya belum banyak dimanfaatkan sepenuhnya. Pada umumnya daun nanas dikembalikan ke lahan untuk digunakan sebagai pupuk. Tanaman nanas dewasa dapat menghasilkan 70 – 80 lembar daun atau 3 –5 kg dengan kadar air 85 %. Setelah panen bagian yang menjadi limbah terdiri atas daun 90 %, tunas batang 9 % dan batang 1 %. Serat nanas terdiri atas selulosa dan non selulosa yang diperoleh melalui penghilangan lapisan luar daun secara mekanik. Lapisan luar daun berupa pelepah yang terdiri atas sel kambium, zat pewarna yaitu klorofil, xanthophyl dan carotene yang merupakan komponen kompleks dari jenis tanin, serta lignin yang terdapat di bagian tengah daun. Selain itu lignin juga terdapat pada lamela dari serat dan dinding sel serat. Serat yang diperoleh dari daun nanas muda kekuatannya relatif rendah dan seratnya lebih pendek dibanding serat dari daun yang sudah tua.

Serat Nanas merupakan serat yang diambil dari daun nanas, memiliki selulosa ataupun non seulosa. Pada umumnya daun nanas dikembalikan ke lahan untuk digunakan sebagai pupuk. Tanaman nanas dewasa dapat menghasilkan 70 – 80 lembar daun atau 3 –5 kg dengan kadar air 85 %. Setelah panen bagian yang menjadi limbah terdiri atas daun 90 %, tunas batang 9 % dan batang 1 %. Serat nanas terdiri atas selulosa dan non selulosa yang diperoleh melalui penghilangan lapisan luar daun secara mekanik. Lapisan luar daun berupa pelepah yang terdiri atas sel kambium, zat pewarna yaitu klorofil, xanthophyl dan carotene yang merupakan komponen kompleks dari jenis tanin, serta lignin yang terdapat di bagian tengah daun. Selain itu lignin juga terdapat pada lamela dari serat dan dinding sel serat. Serat yang diperoleh dari daun nanas muda kekuatannya relatif rendah dan seratnya lebih pendek dib Serat nanas tidak menunjukkan pengurangan kekuatan dalam penyimpanan hingga 6 bulan, sedangkan penyimpanan lebih dari 6 bulan terjadi penurunan kekuatan. Termal konduktivitas serat nanas relatif rendah yaitu sebesar 0,0273 watt/m2/oK, oleh karena itu serat nanas merupakan termal isolator yang baik. Melihat kondisi tersebut di atas serta sifat-sifat serat nanas, maka pemanfaatan limbah daun nanas untuk produk tekstil dimungkinkan memiliki prospek usaha yang positif dan perlu dikembangkan agar diperoleh teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan oleh IKM dengan nilai tambah yang cukup tinggi. Dalam penelitian ini dicoba memanfaatkan serat nanas untuk produk vertical blind (produk yang difungsikan sebagai tirai penutup jendela yang bersifat kaku atau tidak langsai), hal ini karena melihat karakter spesifik serat nanas yaitu sifat kekakuan lentur yang tinggi sehingga dapat menunjang produk vertical blind yang juga memerlukan sifat tersebut. Dengan demikian diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri pengolah serat nanas di Indonesia khususnya produk vertical blind.

Tabel 1. Komposisi Kimia Serat nanas, Serat kapas, dan Serat rami











Komposisi kimia
Serat Nanas
(%)
Serat Kapas
(%)
Serat Rami
(%)
1. Alpha Selulosa
69,5 – 71,5
94
72 – 92
2. Pentosan
17,0 – 17,8
-
-
3. Lignin
4,4 – 4,7
-
0 - 1
4. Pektin
1,0 – 1,2
0,9
3 – 27
5. Lemak dan Wax
3,0 – 3,3
0,6
0,2
6. Abu
0,71 – 0,87
1,2
2,87
7. Zat-zat lain (protein,
asam organik, dll.)
4,5 – 5,3
1,3
6,2

Indonesia telah mencetak rekor dan mendapat piagam penghargaan “Museum Rekor Indonesia” pemrakarsa pembuatan stola serat nanas terpanjang (panjang 36 M dan lebar 7 cm). Sumber : http://bbt.depperin.go.id/



Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload



Fullerena





Nanas muda di kalangan masyarakat dikenal sebagai bahan peluruh janin pada masa kehamilan awal yang mengandung enzim bromelin dan senyawa steroid saponin yang berperan dalam memecah ikatan peptida protein serta kontraksi otot polos uterus. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian air perasan nanas muda terhadap struktur histologis uterus tikus putih bunting awal. Metode yang digunakan eksperimen dengan 25 ekor tikus putih betina, berat badan ± 200g, umur ± 2 bulan di bagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 hewan uji, kelompok kontrol (K0) dan kelompok yang diberi air perasan nanas muda dosis 1,8 ml (K1), 3,6 ml (K2), 5,4 ml (K3) dan 7,2 ml (K4). Pemberian air perasan nanas muda per oral dilakukan setiap hari, pagi dan siang hari setelah umur kebuntingan hari ke 6 sampai hari ke 15. Parameter yang diamati adalah perubahan struktur lumen uterus, jaringan ikat uterus, kelenjar uterus dan sel-sel epitel uterus, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air perasan nanas muda berpengaruh terhadap perubahan struktur lumen uterus pada K3 dan K4 menjadi tidak terlihat, perubahan jaringan ikat uterus pada K2 sampai K4 menjadi tidak teratur, pecah-pecah, tidak kompak, longgar, mengalami peradangan dan pembengkakan, perubahan kelenjar uterus pada K2 sampai K4 mengalami oedema, tidak jelas, dan tidak terlihat serta perubahan sel-sel epitel uterus pada K1 sampai K4 menjadi tidak normal, tersusun rapat, tidak teratur, pecah-pecah dan lepas. Dapat disimpulkan bahwa pemberian air perasan nanas muda memberikan pengaruh terhadap struktur histologis uterus tikus putih bunting awal berupa perubahan struktur lumen uterus, jaringan ikat uterus, kelenjar uterus dan sel-sel epitel uterus. Perubahan struktur histologis uterus tikus putih bunting awal terlihat jelas pada K4 berupa lumen uterus menjadi tidak terlihat, jaringan ikat uterus mengalami peradangan dan pembengkakan, kelenjar uterus tidak terlihat dan sel-sel epitel uterus pecah-pecah dan lepas.

Secara mikroskopi penampang membujur serat nanas dilihat dengan scanning elektron mikroskop, permukaannya tediri atas fibril–fibril dan dengan sinar X menunjukkan bahwa serat nanas mempunyai derajat kristalinitas yang tinggi dengan sudut spiral kira-kira 15o. Pada daerah kristalin molekul-molekulnya tersusun lebih kuat/kencang dengan ikatan hidrogen dan gaya van der waals, sehingga serat nanas mempunyai kekuatan yang relatif tinggi. Kekakuan lentur atau Flexural rigidity dan torsional rigidity serat relatif lebih tinggi dibanding kapas. Hal ini menyebabkan serat mempunyai ketahanan yang besar untuk digintir (twist), sehingga serat cenderung tidak segera tergintir pada saat proses penggintiran selesai. Oleh karena itu serat cenderung kaku dan agak sulit untuk mendapatkan serat yang kompak seperti yang dikehendaki. Sifat porous dan menggelembung (swelling) pada serat nanas menunjukkan adanya sifat daya absorbsi lembab dan kemampuan untuk dicelup.



Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable),
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini
silahkan mendownload



Fullerena



Kamis, Maret 24, 2011



Ilmuan biologi telah mengkaji proses pengangkutan air dan garam mineral pada tumbuhan. Ada beberapa teori yang mendasari pengangkutan air dan garam mineral dari bawah ke atas tumbuhan melalui xylem, adapun teori pengangkutan tersebut adalah:

1. Teori Tekanan Akar
Teori tekanan akar menyatakan bahwa air dan garam mineral terangkut ke atas karena adanya tekanan akar. Tekanan akar ini terjadi dikarenakan perbedaan konsentrasi air di dalam air tanah dengan cairan pada saluran xylem. Konsentrasi air di dalam air tanah lebih tinggi sehingga dapat melakukan osmosis ke dalam sel yang menimbulkan tekanan turgor

2. Teori Vital
Teori vital didasari kenyataan bahwa xylem yang dilewati merupakan pipa kapiler yang berhubungan dan merupakan tempat lewatnya air tanah menuju daun dengan menentang gaya gravitasi. Menurut teori vital, perjalanan air dari akar menuju daun dapat terlaksana karena adanya sel-sel hidup, seperti sel-sel parenkima dan jari-jari empulur disekitar xylem.

3. Teori Dixon-Joly
Teori Dixon-Joly menyatakan bahwa naiknya air ke atas disebabkan tarikan dari atas, yaitu daun yang melakukan transpirasi (penguapan). Transpirasi di daun mengakibatkan konsentrasi molekul air di daun berkurang. Kekurangan ini akan segera diisi oleh molekul air dibawahnya. Dengan demikian terjadi gerakan molekul air dan akar ke daun.

Meskipun ada beberapa teori tentang pengangkutan air dan garam mineral di dalam tumbuhan, pada intinya proses yang berperan penting dalam pengangkutan air adalah osmosis, difusi, dan transport aktif.
Secara garis besar, pengangkutan air dan garam mineral dari dalam tanah sampai ke tubuh tumbuhan melalui lintasan berikut.

Rambut akar --> Epidermis --> Korteks --> Endodermis --> Xilem Akar --> Xilem Batang --> Xilem Daun --> Parenkima Mesofil Daun




Fasilitas copy, ctrl + a, ctrl + c, dan klik kanan telah dimatikan (disable), 
apabila hendak menyalin dan mendapatkan postingan ini 
silahkan mendownload


Fullerena



Yuk Taaruf









Nur Abdillah Siddiq
Mahasiswa Jurusan Fisika ITS, sedang menggeluti Fiber Optik dan dunia pengembangan diri. Berusaha mengabdi dan memberikan kontribusi nyata pada agama Islam, Negara Indonesia, dan Orang Tua Tercinta (H. Fajar Rahman dan Hj. Sri Tumiasih).

Blog ini adalah website pribadi Nur Abdillah Siddiq. Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Popular Posts

Yuk Baca !

Yuk Baca !